MainAd pun mulai memenangkan banyak ikon-ikon brand Indonesia yang terkenal, seperti Indofood, Sasa, dan Biore.
Setelah dinilai mampu memimpin MainAd dengan baik, pada 2009 Maya mendapat tanggung jawab baru dengan memegang DSP Media (Media house agency).
Di bawah kepimpinan Maya, bisnis DSP Media tumbuh lima kali lipat berkat perubahan struktur, sistem, dan job flow yang dilakukannya.
Sukses memimpin DSP Media dan MainAd, Maya diangkat menjadi Managing Director DwiSapta Group pada tahun 2012, dengan menangani enam perusahaan dan dua anak perusahaan, yaitu Main Media & iNexus.
Dari Managing Director DwiSapta, karir Maya Watono kemudian melesat menjadi CEO DwiSapta, sejak Januari 2017 hingga akhir Desember 2018.
Pada usia masih terbilang muda, 37 tahun, ia ditunjuk sebagai Country CEO Dentsu Indonesia, dari 2019 hingga 2022.
Sebelumnya, perempuan kelahiran 12 Mei 1982 Ini memegang jabatan CEO DwiSapta, diperoleh berbarengan dengan merger yang dilakukan antara DwiSapta Group dengan Dentsu Aegis Network pada 25 Januari 2017 di Jakarta.
Merger antara DwiSapta dan dentsu Aegis Network Indonesia menjadi merger terbesar sepanjang sejarah periklanan Indonesia.
Kemudian, selama tiga tahun terakhir sejak 2019-2021, Maya berhasil membawa dentsu Indonesia menjadi agensi periklanan multinasional terbesar di Indonesia dan paling terintegrasi.
Di bawah kepemimpinan Maya sebagai Country CEO Dentsu Indonesia, nama perusahaan berkibar di manca negara. Karena prestasi tersebut, Maya pernah dianugerahkan berbagai penghargaan di kawasan Asia-Pasifik.
Sejak tahun 2020, dentsu Indonesia mencatatkan diri sebagai Media Agency nomor satu dalam peringkat Kualitatif RECMA dan sebagai ranking satu di COMvergence New Business League pada tahun 2020 dan 2021.
