KITAINDONESIASATU.COM – Dinamika di internal Tentara Nasional Indonesia (TNI) kembali memanas setelah Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI Letjen Yudi Abrimantyo memutuskan untuk meletakkan jabatannya. Pengunduran diri ini terjadi di tengah bergulirnya kasus penyiraman air keras yang menimpa Andrie Yunus.
Langkah pengunduran diri tersebut memicu reaksi keras dari aktivis hak asasi manusia, Haris Azhar. Menurut Haris, mundurnya pucuk pimpinan BAIS TNI seharusnya tidak menghentikan pengusutan kasus tersebut.
Ia menegaskan bahwa jabatan Kepala BAIS merupakan posisi yang sangat strategis dalam struktur keamanan nasional, sehingga setiap indikasi penyimpangan harus dipertanggungjawabkan secara hukum.
“Harusnya dia tidak sekadar mundur, tapi juga menjadi target pemeriksaan yang serius. Publik perlu tahu sejauh mana pengaruh dan keterkaitannya dalam kasus Andrie Yunus ini,” ujar Haris Azhar dikutip dari YouTube Nusantara TV, Jumat 27 Maret 2026.
Ia menambahkan bahwa transparansi dalam tubuh intelijen militer sangat krusial untuk menjaga integritas institusi TNI di mata rakyat. Hingga kini, Markas Besar TNI belum memberikan pernyataan resmi detail mengenai alasan spesifik pengunduran diri tersebut selain berkaitan dengan evaluasi internal.
Kasus ini diprediksi akan terus berkembang seiring desakan masyarakat sipil agar proses hukum dijalankan secara terbuka dan tanpa tebang pilih, terutama jika menyangkut penyalahgunaan wewenang di lembaga intelijen.(*)
