KITAINDONESIASATU.COM — Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk melakukan pembersihan besar-besaran di tubuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Saat meresmikan Bendungan Meninting di Lombok Barat pada Jumat (10/7/2026), Prabowo secara blak-blakan menyebut banyak perusahaan pelat merah yang selama ini menjadi sarang korupsi dan terus merugi.
Menyikapi hal tersebut, Kepala Negara menargetkan penutupan hingga 800 BUMN yang dinilai tidak efisien dan tidak produktif pada akhir Desember 2026.
Prabowo mengaku terkejut saat awal menjabat, karena baru mengetahui bahwa jumlah total entitas BUMN, termasuk anak dan cucu perusahaannya, membengkak hingga mencapai 1.077 perusahaan.
Menurut Presiden, keberadaan anak hingga cicit perusahaan BUMN yang tidak sehat itu sering kali dijadikan sebagai tempat berlindung untuk menyembunyikan uang negara. Hingga pertengahan Juli 2026, pemerintah mencatat sudah ada 240 BUMN bermasalah yang resmi dilikuidasi.
Langkah tegas penutupan ratusan BUMN ini diklaim berhasil memangkas biaya operasional (overhead) secara masif. Dari efisiensi gaji jajaran direksi dan komisaris saja, negara berhasil menghemat anggaran hingga mendekati Rp70 triliun. Anggaran tersebut selanjutnya akan dialihkan untuk program yang lebih produktif bagi masyarakat.(*)





