KITAINDONESIASATU.COM – Harga berbagai kebutuhan pokok di Sumatra Utara melonjak tajam pada Minggu (30/11) setelah wilayah itu diguncang banjir besar dan longsor beruntun. Kenaikan ini dipicu pasokan yang anjlok drastis karena jalur distribusi terputus, sementara aktivitas masyarakat mulai meningkat kembali sehingga permintaan ikut terdorong naik.
Sejak Rabu (26/11) hingga Sabtu (29/11), pasokan cabai, bawang, dan sejumlah komoditas hortikultura terganggu berat. Pada Sabtu, harga belum naik karena permintaan turun dan banyak rumah makan tutup. Namun memasuki Minggu, harga langsung merangkak tajam meski kondisi pasar belum sepenuhnya pulih.
Di Medan dan Deliserdang, harga cabai merah melonjak menjadi Rp67 ribu per kilogram, dari sebelumnya Rp50 ribu. Di Langkat, lonjakannya jauh lebih ekstrem hingga menyentuh Rp100 ribu per kilogram. Cabai rawit naik ke Rp45 ribu, cabai hijau Rp38 ribu, dan bawang merah menembus Rp43 ribu per kilogram. Sejumlah komoditas lain seperti ikan tongkol, dencis, wortel, kentang, dan tomat juga ikut terkerek naik.
Ekonom UISU, Gunawan Benjamin menjelaskan bahwa lonjakan harga dipicu banyak faktor, dan kondisi ini kemungkinan besar bertahan selama masa pemulihan pascabencana. Gangguan distribusi dari Aceh Tengah, Jawa, dan Sumatra Barat membuat Sumut harus bergantung pada produksi lokal yang jumlahnya terbatas. Selain itu, banyak pedagang belum beroperasi, distribusi tidak merata, cuaca ekstrem memperburuk produksi, dan ancaman longsor masih membayangi.
Gunawan juga memperingatkan bahwa harga kebutuhan protein seperti ayam, telur, dan daging sapi berpotensi naik jika harga jagung sebagai bahan pakan kembali meningkat. Untuk komoditas hortikultura, meski cabai merah kemungkinan turun dari puncak Rp100 ribu, harganya tetap berisiko bertahan di rentang Rp50 ribu–Rp80 ribu per kilogram pada awal Desember. (*)

