Berita Utama

Gotong Royong ala Betawi: Sejarah dan Perubahan Tradisi Nyambat

×

Gotong Royong ala Betawi: Sejarah dan Perubahan Tradisi Nyambat

Sebarkan artikel ini
FotoJet 4 29
Tradisi Nyambat mendekati kepunahan

KITAINDONESIASATU.COM – Bagi masyarakat Betawi, nyambat bukan sekadar meminta bantuan, melainkan sebuah tradisi gotong royong yang mencerminkan kebersamaan dan solidaritas.

Dalam bukunya Betawi Tempo Dulu: Menelusuri Sejarah Kebudayaan Betawi, Abdul Chaer menjelaskan bahwa nyambat adalah ajakan kepada tetangga untuk membantu pekerjaan berat tanpa imbalan materi.

Sebagai gantinya, tuan rumah biasanya menyediakan hidangan sederhana sebagai tanda terima kasih.

Tradisi ini umumnya dilakukan dalam pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga, seperti membajak sawah atau membangun rumah.

Pada tahun 1950-an, nyambat masih menjadi praktik umum di kalangan masyarakat Betawi. Warga secara sukarela datang untuk membantu tetangga yang membutuhkan banyak tenaga kerja, terutama dalam proses pembangunan rumah.

Baca Juga  Mengenal Sejarah Madura Lewat Koleksi Museum Purbakala Bangkalan

Mereka bersama-sama mengangkat rangka kayu dan menyelesaikan bagian paling berat sebelum pengerjaan diserahkan kepada tukang yang lebih sedikit jumlahnya.

Tak hanya laki-laki, perempuan juga terlibat dalam tradisi ini, terutama dalam kegiatan pertanian seperti menanam padi (nandur) atau panen. Biasanya, mereka bekerja dengan sistem maroan, di mana hasil panen dibagi secara adil antara pemilik lahan dan mereka yang membantu.

Namun, seiring perkembangan zaman, tradisi nyambat perlahan memudar.

Chaer menyebutkan bahwa perubahan sosial dan kemajuan teknologi menjadi penyebab utama hilangnya tradisi ini.
Penggunaan material bangunan modern seperti semen dan beton membuat pembangunan rumah lebih efisien, sehingga tenaga gotong royong tidak lagi diperlukan.

Baca Juga  Pantai Batakan: Wisata Lengkap dengan Pegunungan, Laut dan Sejarah

Selain itu, alih fungsi lahan dari sawah menjadi kawasan permukiman semakin menghilangkan kesempatan untuk melestarikan nyambat.

“Sejak tahun 1950-an, rumah-rumah Betawi mulai menggunakan semen dan tegel, sementara sawah-sawah berubah menjadi permukiman. Akibatnya, tradisi nyambat pun perlahan menghilang,” jelas Chaer.

Kini, nyambat hanya tinggal kenangan dalam sejarah masyarakat Betawi.

Meski begitu, nilai kebersamaan dan solidaritas yang terkandung dalam tradisi ini tetap relevan dan patut dikenang sebagai bagian dari warisan budaya yang pernah mengakar kuat di kehidupan mereka.- ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *