Namun, upaya Bank Indonesia tersebut seolah belum cukup untuk meredam tekanan eksternal yang datang bertubi-tubi.
Lonjakan harga minyak global akibat ketegangan geopolitik AS-Iran menjadi penyebab anjloknya nilai tukar Rupiah semakin fatal, mengingat Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan bakar energi.
Sell Indonesia
Media internasional seperti Bloomberg dan Nikkei Asia menyoroti tajam fenomena ‘Sell Indonesia’ ini.
Mereka melaporkan bahwa investor global dengan cepat kehilangan kepercayaan pada Indonesia karena masalah kredibilitas negara yang meningkat, membuat Rupiah dan aset keuangan lainnya terus terpukul tanpa henti.
The Straits Times juga menegaskan bahwa gelombang ‘Sell Indonesia’ menyapu bersih pasar, didorong oleh persepsi bahwa pemerintah memperketat cengkeraman kebijakan yang tidak ramah pasar.
Hal ini semakin mengukuhkan narasi penyebab anjloknya nilai tukar Rupiah yang berakar pada sentimen negatif investor asing.
Berdasarkan data aliran dana asing dari Bursa Efek Indonesia pada kuartal II 2026, asing telah melakukan net sell masif di pasar saham dan SBN senilai lebih dari Rp150 triliun.

