KITAINDONESIASATU.COM- Masuknya kawanan monyet ekor panjang ke permukiman warga dan sejumlah ruang publik di Kota Bogor dalam beberapa hari terakhir memunculkan kekhawatiran baru tentang semakin menyempitnya batas antara habitat satwa liar dan ruang hidup manusia. Dari taman di kawasan Sempur hingga area Kampus IPB Dramaga, primata tersebut tampak semakin berani memasuki wilayah aktivitas masyarakat.
Menanggapi fenomena tersebut, Kepala Pusat Studi Satwa Primata (PSSP) IPB University, Prof Huda S Darusman, menjelaskan bahwa perilaku itu merupakan bagian dari pola adaptasi primata terhadap perubahan lingkungan yang terus berlangsung.
“Satwa primata adalah satwa yang paling mudah beradaptasi dan sangat cepat belajar perilaku baru,” ujarnya, Selasa, 25 November 2025.
Menurut Prof Huda, kondisi musim penghujan yang sebenarnya menyediakan pakan alami melimpah, tidak serta-merta membuat monyet ekor panjang kembali bergantung pada sumber pakan di habitatnya.
Sebaliknya, primata cenderung memilih jalur yang lebih mudah.Ia menjelaskan, monyet-monyet tersebut terbiasa mencari sisa makanan manusia dari tumpukan sampah terbuka.
“Mereka memulung makanan karena itu strategi hidup yang efektif. Sampah makanan yang berserakan menjadi sumber pakan paling mudah,” jelasnya.
Populasi monyet ekor panjang di sekitar Kampus IPB Dramaga, kata Prof Huda, telah ada sejak tahun 1970-an. Namun, fragmentasi habitat yang terjadi akibat pembangunan dan alih fungsi lahan membuat ruang gerak satwa semakin terdesak.
“Perubahan lahan menjadi permukiman, tempat wisata, dan pembangunan fasilitas lain memaksa kelompok primata mencari lokasi baru yang menyediakan pakan,” tuturnya.
Terkait kekhawatiran masyarakat mengenai potensi agresivitas satwa, Prof Huda mengingatkan bahwa interaksi fisik antara manusia dan primata justru berbahaya bagi kedua pihak.
“Kita dan primata memiliki banyak kemiripan penyakit, sehingga gigitan dan cakaran berpotensi menularkan penyakit,” ujarnya.
Ia menambahkan, monyet ekor panjang pada dasarnya menghindari manusia. Namun reaksi agresif dapat muncul ketika mereka menangkap sinyal ketakutan dari manusia.
“Pada dasarnya, monyet takut pada manusia. Akan tetapi, mereka dapat bereaksi agresif jika merasakan ketakutan manusia,” jelasnya.
Fenomena invasi ke permukiman ini bukan peristiwa baru. Sejak 2017, PSSP IPB University telah mencatat berbagai kejadian serupa dan melakukan sejumlah intervensi, mulai dari penghalauan, penangkapan selektif, hingga translokasi. Salah satu metode yang dinilai paling efektif adalah identifikasi alpha male atau pemimpin kelompok.
“Begitu pemimpinnya ditangkap untuk penanganan medis dan translokasi, struktur kelompok buyar dan tingkat invasi menurun,” kata Prof Huda.
Untuk jangka panjang, IPB University tengah mengkaji sejumlah langkah pengendalian ekosistem, termasuk menyediakan feeding point di dekat habitat asli serta reboisasi pohon pakan. Namun menurut Prof Huda, upaya tersebut tidak akan optimal tanpa perubahan perilaku manusia dalam mengelola sampah.
“Kalau manusia masih menghasilkan sampah makanan terbuka, primata tetap akan kembali,” ucapnya. (Nicko)
