Berita UtamaNews

Cuaca Buruk Gelombang Tinggi Warga Pulau Bawean Kian Terisolir Diprediksi BMKG hingga 16 Januari 2026

×

Cuaca Buruk Gelombang Tinggi Warga Pulau Bawean Kian Terisolir Diprediksi BMKG hingga 16 Januari 2026

Sebarkan artikel ini
Gelombang tinggi
Ilustrasi gelombang tinggi

KITAINDONESIASATU.COM – Situasi Pulau Bawean saat ini kian terisolir menyusul cuaca buruk yang terjadi di perairan Laut Jawa khususnya sekitar Pulau Bawean, Kabupaten Gresik adanya gelombang tinggi sejak 9 Januari 2026.

Imbas cuaca buruk dan gelombang pasang di perairan Pulau Jawa membuat aktivitas pelajaran ke pulau terpencil di sekitar Pulau Madura ini dan Gresik ini menyebabkan tertundanya sejumlah pelayaran.

Salah satunya kapal cepat menuju Pulau Bawewan dari Pelabuhan Gresik terpaksa ditunda, cuaca buruk diperkirakan akan terjadi hingga sepekan ke depan.

Sementara selama sepekan ini para calon penumpang tertahan di daratan, mengingat tidak ada pelayaran menuju Pulau berpenduduk sekitar 107 ribu ini.

Berdasarkan laporan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pulau Bawean menyebutkan adanya cuaca buruk dan terjadinya gelombang tinggi hingga mencapai 2,5 meter, membuat pelajaran antar pulau menjadi terganggu.

Baca Juga  Polres Tangerang Selatan Tangkap Pelaku Penyiram Air Keras ke Anggota Polsek Ciputat Selatan

Seperti diungkapkan Kepala BMKG Pulau Bawean, Usman Kholid kepada wartawan mengatakan kondisi gelombang tinggi di perairan Pulau Bawean terjadi khususnya bagian selatan.

Kawasan ini masih terjadi cuaca ekstrem dengan kondisi gelombang masih tergolong tinggi dan berbahaya bagi pelayaran, update terbaru gelombang mencapai 2,5 meter dan diperkirakan akan berlangsung hingga 16 Januari 2026 mendatang.

Setelah tanggal itu menurut perkiraan BMKG adanya potensi penurunan gelombang, namun kepastian situasi laut tetap tergantung dinamika atmofer harian yang terus diperbarui.

BMKG pun berharap kedepannya cuaca akan lebih bagus lagi, lebih kondosif dan aktivitas pelayaran kembali normal masyarakat bisa beraktivitas seperti hari-hari biasanya dan pelayaran menuju ke Pulau Bawean pun kembali dibuka.

Baca Juga  4 Korban Tertimbun Longsor di Tanah Karo Ditemukan Meninggal

Sementara dampak terhentinya pelayaran ke Pulau Bawean mulai dirasakan masyarakat dari hasil inspeksi tim Kecamatan Sangkapura di Pasar Desa Kotakusuma diperoleh data adanya kenaikan dan kelangkaan sejumlah komoditas bahan pokok.

Khususnya stok sayur-sayuran mulai menipis, karena memang tidak ada pasokan dari luar yang masuk ke Pulau Bawean, sehingga terjadi kelangkaan, apalagi sayuran cepat kering jika tidak segera dimasukkan ke lemari pendingin.

Selain menipisnya sayur-sayuran sejumlah komoditas lain seperti harga terlur ayam mengalami kenaikan dari Rp32 ribu per kg menjadi Rp35 ribu, begitu juga dengan dagung ayam yang sebelumnya Rp50 ribu kini menjadi Rp60 ribu.

Baca Juga  SIM Keliling Pulau Bawean 30 Januari 2025, Catat Jadwal dan Lokasinya

Para pedagang tidak bisa bergerak untuk mengambil stok kebutuhan barang pokok sementara cuaca masih tidak memungkinkan, aktivitas keluar masuk pelajaran menuju pulau ini juga tidak bisa dilakukan.

Dilansir beritajatim.com, seorang warga Bawean bernama Zainiyah mengungkapkan dirinya tidak bisa balik ke kampung halamannya sejak Sabtu (10/1/2026) lalu, ia tertahan di pelabuhan Gresik lantaran tidak ada pelayaran atau kapal menuju kampung halamannya.

Oleh karena itu dirinya bersama warga bawean lainnya untuk sementara tinggal di rumah singgah karena memang tidak ada pelayaran ke Pulau Bawean.

Tertundanya pelayaran ke kampung halamannya membuat pengeluarannya juga menjadi membengkak, untuk kebutuhan sehari-hari khususnya untuk makan akan bertambah banyak.

Sementara berdasarkan info dari BMKG sistuasi ini diperkirakan masih akan terjadi hingga 16 Januari 2026, akan semakin menambah beban lebih banyak untuk pengeluaran kebutuhan sehari-hari.

Oleh sebab itu warga berharap ada bantuan kapal yang beroperasi khusus untuk warga yang terdampak yang kurang mampu dan memberikan bantuan sehingga membantu beban warga yang saat ini tinggal di daratan Gresik. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *