Di tempat baru, permukiman itu berkembang menjadi Kompleks Permata. Sejumlah jalan di kawasan tersebut menggunakan nama batu permata, antara lain Safir, Zamrud, dan Kristal. Sementara itu, sebutan Kampung Ambon bertahan karena keterkaitannya dengan asal-usul sebagian penduduk awal.
Dengan demikian, nama Kampung Ambon tidak lahir dari aktivitas narkoba, melainkan berkaitan dengan identitas komunitas yang menghuni kawasan tersebut.
Seiring berjalannya waktu, Kampung Ambon semakin sering muncul dalam pemberitaan mengenai peredaran narkotika dan operasi kepolisian. Pemberitaan berulang membuat nama kawasan ini lekat dengan citra negatif, meskipun tidak berarti seluruh penduduknya terlibat dalam tindak kriminal.
Pada 2013, persoalan stigma terhadap kawasan tersebut juga menjadi perhatian dalam pemberitaan mengenai penataan wilayah Jakarta Barat. Sebutan Kampung Ambon dinilai berpotensi menimbulkan citra buruk bagi warga yang tinggal di sana.
Padahal, sejarah sebuah permukiman tidak dapat disederhanakan hanya berdasarkan kasus kriminal yang terjadi di dalamnya. Kampung Ambon memiliki perjalanan sosial yang berawal dari perpindahan penduduk, pembentukan lingkungan tempat tinggal, hingga perubahan kehidupan masyarakat perkotaan.
Sejarah tersebut memperlihatkan bahwa identitas kawasan dapat bertahan selama puluhan tahun, sementara persepsi publik terhadapnya berubah mengikuti perkembangan zaman. Memahami asal-usul Kampung Ambon berarti melihatnya secara lebih utuh, bukan semata-mata melalui berita penggerebekan narkoba. (*)




