KITAINDONESIASATU.COM – Puasa Ramadan 1447 H tinggal menghitung hari. Masyarakat Indonesia pun bersiap menyambut bulan mulia tersebut. Berdasarkan informasi terbaru (per 14 Februari 2026), terdapat potensi perbedaan awal puasa Ramadan 1447 H di Indonesia.
Pemerintah memprediksi 1 Ramadan 2026 akan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Kalender Hijriah Indonesia 2026 terbitan Kemenag menggunakan kriteria MABIMS (tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat).
Untuk kepastiannya masih menunggu hasil Sidang Isbat yang dijadwalkan pada Selasa, 17 Februari 2026 (29 Syakban 1447 H). Jika pada hari tersebut hilal belum terlihat/memenuhi kriteria, maka bulan Syakban akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).
Sementara itu, PP Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Ormas Islam ini menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal dan berpedoman pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Meskipun posisi hilal di Indonesia pada 17 Februari masih sangat rendah, kriteria global sudah terpenuhi di wilayah lain (seperti Alaska), sehingga secara global bulan baru sudah dimulai.
Secara terpisah Nahdlutul Ulama (NU) memperkirakan 1 Ramadan 2026 jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Pasalnya, NU menggunakan kriteria Imkanur Rukyat (kemungkinan hilal terlihat).
Berdasarkan data astronomi, posisi hilal pada 17 Februari diprediksi masih di bawah ufuk atau belum memenuhi kriteria minimal tinggi 3 derajat, sehingga kemungkinan besar awal puasa dimulai pada hari Kamis.
Senada dengan pemerintah dan NU, BRIN melalui Peneliti Ahli Utama Astronomi, Prof. Thomas Djamaluddin, memprediksi puasa dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026.
Dari laporan BRIN, secara sain posisi hilal pada 17 Februari 2026 di wilayah Indonesia dan negara-negara MABIMS lainnya masih belum memenuhi kriteria visibilitas, sehingga awal bulan baru secara lokal baru dimulai sehari setelahnya.
Masyarakat diimbau untuk menunggu keputusan resmi dari Sidang Isbat Pemerintah pada 17 Februari mendatang dan tetap saling menghormati jika terdapat perbedaan dalam memulai ibadah puasa. (*)
