KITAINDONESIASATU.COM – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa seorang pemimpin besar tidak pernah lahir secara instan. Menurutnya, kepemimpinan adalah perjalanan panjang yang sarat dengan tantangan kepemimpinan, kemampuan merebut peluang, serta keberanian melakukan momentum perubahan.
Hal tersebut ia sampaikan dalam acara Rumah Kepemimpinan di Balai Purnomo Prawiro, Kampus Universitas Indonesia (UI), Kota Depok, Jawa Barat, sebagaimana dikutip dari laman resmi Kemendagri, Senin 25 Agustus 2025.
Dalam paparannya, Bima menyinggung perjalanan tokoh bangsa seperti Bung Karno dan Bung Hatta. Sejak muda, keduanya sudah aktif dalam organisasi dan perjuangan hingga akhirnya menjadi proklamator.
Menurutnya, tidak ada jalan tol menuju kesuksesan seorang pemimpin besar, karena setiap langkah selalu dipenuhi liku-liku dan tantangan kepemimpinan. Semakin besar gagasan, semakin besar pula risiko yang harus dihadapi dalam menjalani momentum perubahan.
Bima menekankan bahwa generasi muda harus menyiapkan diri sejak dini. Berdasarkan data, lebih dari 70 persen kepala daerah saat ini adalah wajah baru, dengan sekitar 80 kepala daerah berusia di bawah 40 tahun. Hal ini menjadi bukti bahwa roda regenerasi terus bergerak, dan Gen Z berpotensi menjadi gubernur, bupati, wali kota, bahkan presiden pada 2045.
Menurutnya, hanya mereka yang berani menghadapi tantangan kepemimpinan yang akan menjadi pemimpin besar di masa depan dan mampu mengawal momentum perubahan.
“Generasi saya, Gen X, akan segera fade away. Tapi kalian punya kesempatan menjadi our leaders di 20 tahun ke depan. Time flies. Karena itu, hidup hanya sekarang. Jangan diperbudak materi, jadilah manusia yang berarti,” tegas Bima. Pesan ini menjadi refleksi penting bahwa setiap pemimpin besar berangkat dari kesadaran waktu, keteguhan hati, dan kesiapan menghadapi tantangan kepemimpinan di setiap momentum perubahan.
Lebih jauh, Bima mengingatkan bahwa kepemimpinan sejati tidak hanya soal popularitas, melainkan keberanian mengambil risiko. Ia mencontohkan pengalamannya saat menjabat Wali Kota Bogor, ketika harus menghadapi tekanan politik, jebakan pragmatisme, hingga ancaman nyata.


