Berita UtamaLifestyle

Angka Pernikahan Menurun, Peneliti IPB Ungkap Faktor Ekonomi hingga Budaya yang Berubah

×

Angka Pernikahan Menurun, Peneliti IPB Ungkap Faktor Ekonomi hingga Budaya yang Berubah

Sebarkan artikel ini
IMG 20260306 135917
Ilustrasi pasangan memasangkan cincin pernikahan sebagai simbol komitmen dalam membangun rumah tangga. (Kis/ist)

KITAINDONESIASATU.COM- Fenomena menurunnya minat menikah di kalangan generasi muda dinilai dipengaruhi berbagai faktor sosial, ekonomi, hingga perubahan budaya. Peneliti dan dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Risda Rizkillah, SSi, MSi, menyebut pernikahan kini tidak lagi dipandang sebagai simbol prestise atau status sosial oleh sebagian anak muda.

Menurut Risda, banyak generasi muda memilih menunda pernikahan untuk mengejar pendidikan, membangun karier, serta mengembangkan diri terlebih dahulu.

“Pernikahan tidak lagi menjadi prioritas utama. Generasi muda cenderung fokus pada pendidikan, karier, dan pengalaman pribadi sebelum memutuskan untuk menikah,” ujarnya, saat dikutip dalam keterangan tertulis, Jumat, 6 Maret 2026.

Ia menjelaskan, penurunan angka pernikahan dipicu sejumlah faktor utama yang saling berkaitan, mulai dari kondisi sosial hingga ekonomi yang semakin kompleks.

Baca Juga  Layanan SIM Keliling Jakarta di Akhir Pekan, Sabtu 29 November

“Dari sisi ekonomi, kesulitan finansial, tingginya biaya hidup, dan ketidakstabilan pekerjaan membuat banyak orang menunda menikah. Padahal, kemampuan memenuhi kebutuhan dasar keluarga menjadi salah satu prasyarat penting dalam membangun rumah tangga,” jelasnya.

Selain faktor ekonomi, pendidikan dan karier juga berpengaruh terhadap keputusan menikah. Menurut Risda, masa pendidikan yang semakin panjang serta orientasi kuat pada pencapaian karier meningkatkan kemungkinan generasi muda menunda pernikahan.

Perubahan norma sosial juga turut berkontribusi. Ia menyoroti mulai munculnya normalisasi hubungan non-pernikahan seperti kohabitasi (kumpul kebo) di masyarakat. Konten viral di media sosial, seperti narasi “marriage is scary”, juga dinilai membentuk persepsi negatif terhadap pernikahan di kalangan generasi muda.

Di sisi lain, gaya hidup modern yang menekankan kebebasan individu, konsumsi, serta pencarian pengalaman pribadi turut menggeser prioritas generasi muda dari pernikahan ke karier, hobi, maupun perjalanan.

Baca Juga  Rasa Nikmat! Tempat Makan Bubur Ayam di Bogor Masuk ke Kompleks Perumahan, Sarapan Terbaik

“Perkembangan teknologi dan tren ‘digital dating’ juga memunculkan fenomena ‘paradox of choice’, yakni kondisi ketika terlalu banyak pilihan justru membuat seseorang semakin sulit berkomitmen,” imbuhnya.

Risda mengingatkan, penurunan angka pernikahan berpotensi berdampak pada struktur demografi dalam jangka panjang karena dapat menurunkan angka kelahiran. Saat ini, total fertility rate (TFR) Indonesia tercatat sebesar 2,19.

Selain itu, tren tersebut juga berisiko meningkatkan kesepian atau isolasi sosial pada usia lanjut. Dari sisi kesehatan reproduksi, ia menambahkan bahwa jika penurunan pernikahan terjadi bersamaan dengan meningkatnya hubungan seksual di luar pernikahan, maka risiko penularan penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS, dapat meningkat akibat minimnya komitmen dan perlindungan kesehatan yang konsisten.

Baca Juga  Ramalan Zodiak Minggu 29 Maret 2026: Cinta, Karier, dan Keuangan Hari Ini

Untuk merespons fenomena tersebut, Risda menekankan pentingnya membangun pola pikir bahwa pernikahan merupakan tujuan hidup yang diinginkan (marriage is desirable), bukan sesuatu yang menakutkan. Ia menilai pendidikan dan penyuluhan keluarga perlu dikemas secara menarik dan relevan dengan karakter generasi muda.

Selain itu, ia juga menyoroti peran pemerintah melalui kebijakan publik yang ramah keluarga, seperti dukungan keseimbangan kerja dan keluarga, penyediaan fasilitas perumahan bagi pasangan muda, perluasan lapangan pekerjaan, serta pemberian upah yang layak.

Risda menambahkan, penelitian berkelanjutan juga penting dilakukan untuk memantau perubahan norma dan perilaku generasi muda, sehingga pola penundaan pernikahan dan dampaknya terhadap ketahanan keluarga di masa mendatang dapat dipahami secara lebih komprehensif. (Nicko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *