Berita UtamaSepakbola

Aksi Solo Run Rachmat Irianto Bukan Aksi Egois, Tetapi Aksi Cerdas Bernilai Taktik

×

Aksi Solo Run Rachmat Irianto Bukan Aksi Egois, Tetapi Aksi Cerdas Bernilai Taktik

Sebarkan artikel ini
rachmat irianto
Aksi solo run Rachmat Irianto membawa Persebaya menang telak dari PSIM Yogyakarta 0-3, Minggu (25/1/2026) sore. foto: tangkapan layar

KITAINDONESIASATU.COM – Gol Persebaya saat menghajar PSIM Yogyakarta menandai kesuksesan pelatih Bernardo Tavares dalam melakukan ujicoba komposisi pemain baru Persebaya, Minggu (25/1/2026).

Laga di kandang Stadion Sultan Agung Bantul, PSIM Yogyakarta dibuat tak berkutik tidak mampu memberikan gol balasan satu pun hingga skor 0-3 untuk kemenangan Persebaya Surabaya.

Pelain kelahira Kota Dili, Timor Leste berhasil membuka kebuntuan yang terjadi hingga akhirnya sukses mencetak gol dimenit ke-35, kemudian dua gol lainnya diciptakan di babak kedua oleh dua pemain pengganti Bruno Paraiba menit ke-74 dan Rachmat Irianto menit ke-84.

Yang menarik dari tiga gol Persebaya tersebut adalah gol yang dihasilkan gelandang bertahan dan bek melalui aksi solo run Rachmat Irianto yang menggiring bola dari sudut belakang Persebaya hingga area kotak penalti PSIM hingga akhirnya mencetak gol atraktif.

Solo run yang disuguhkan Rachmat Irianto saat melawan PSIM Yogyakarta itu menarik bukan karena showboat, tapi karena kecerdasan membaca ruang dan timing—ciri khas yang dimiliki Rian banget –panggilan akrap Rachmat Irianto.

Dalam gol yang diciptakan Rian tidak memulai solo run karena niat pamer skill, namun ia melihat blok PSIM terlalu rapat di sisi kanan, sementara half-space sebelah kiri terbuka.

Begitu ada momen transisi yang dirasa ada peluang, ia langsung membawa bola masuk ke ruang kosong, ini keputusan cerdas, bukan sekedar insting liar.

Tentu dalam solo run yang dilakukan Rian ini membutuhkan kontrol dengan tempo yang sangat tenang tidak gegabah diliputi emosional tanpa strategi, tetapi butuh kecerdasan dan ketenangan berfikir tidak panik hingga sukses mencetak gol.

Dalam aksinya Rian tidak terlalu sprint sejak awal, terlihat tidak panik meski dikejar tiga penggawa PSIM Yogyakarta yang membayangi sepanjang run solo-nya itu, namun dia sadar sempat menunggu lawan mendekat, lalu mengubah tempo.

Ini membuat bek PSIM ragu dan sulit untuk berspekulasi mau press atau drop, kecerdasan Rian saat pemain PSIM berfikiran itu ada jeda kosong lalu tancap gas dimanfaatkan dengan baik.

Solo run ini bukan penuh step-over atau trik berlebihan, sentuahan pendek, badan selalu di antara bola dan lawan, arah lari diagonal bukan lurus, sangat efisien minim risiko kehilangan bola.

Aksi solo run Rian juga menarik 2-3 pemain PSIM Yogyakarta untuk membayangi, namun seorang pemain tak mampu mengejar hingga mundur karena di luar posisi tak melanjutkan melakukan pengejaran.

Tiga dua pemain yang membayangi aksi solo run Rian, nilai taktisnya besar saat Rian membawa bola jauh, ia memaksa satu gelandang ke luar posisi kemudian menarik satu bek tengah untuk naik.

Situasi ini membuk aruang bagi rekan setim di sisi lain, bahkan kalau tidak berujung gol struktur pertahanan PSIM sudah rusak, Rian hanya berhadapan dengan kiper dan akhirnya dapat diperdaya dengan tendangan sedikit melambung, hingga menggandakan gol Persebaya menjadi 3 gol.

Aksi solo run Rachmat Irianto menunjukkan karakter pemain sepakbola modern, sekaligus memperlihatkan Rian bukan sekedar bek dan gelandang bertahan, tetapi sebagai ball-carrying player, tipe pemain yang dibutuhkan dalam sepakbola modern terutama menghadapi tim dengan tipe low block seperti PSIM Yogyakarta ini.

Solo run Rachmat Irianto bukan aksi individu egois tetapi aksi cerdas, kontekstual dan bernilai taktik, jika konsiten dilakukan tipe run seperti ini, sangat cocok dengan sepakbola intens dan vertikal termasuk level timnas. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *