Berita UtamaKesehatan

Ahli Gizi Ungkap Fakta di Balik Jarangnya Kangkung di Menu Pasien Rumah Sakit

×

Ahli Gizi Ungkap Fakta di Balik Jarangnya Kangkung di Menu Pasien Rumah Sakit

Sebarkan artikel ini
IMG 20260216 184247
Ilustrasi kangkung. Kandungan purin, oksalat, serta sifat mudah rusak membuat sayuran berdaun seperti kangkung jarang masuk standar menu rumah sakit. (Kis/ist)

KITAINDONESIASATU.COM- Kangkung dikenal sebagai salah satu sayuran favorit masyarakat karena mudah didapat, murah, dan lezat diolah. Namun, di balik popularitasnya di meja makan rumahan, sayuran berdaun hijau ini justru hampir tak pernah dijumpai dalam menu pasien rumah sakit. Kondisi tersebut kerap memunculkan anggapan bahwa kangkung dihindari karena isu kontaminasi. Padahal, ada alasan gizi dan teknis yang lebih mendasar di balik kebijakan tersebut.

Dosen Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Hana Fitria Navratilova, SGz, MSc, PhD, menjelaskan bahwa pemilihan menu makanan di fasilitas pelayanan kesehatan dilakukan secara sangat selektif. Hal itu bertujuan untuk memastikan keamanan pangan sekaligus kesesuaian gizi bagi pasien dengan beragam kondisi klinis.

Bukan Semata Kontaminan

Dr Hana menegaskan, alasan kangkung jarang disajikan di rumah sakit bukan semata-mata karena kekhawatiran terhadap kontaminan. Menurutnya, terdapat alasan praktis dan pertimbangan medis yang membuat sayuran berdaun hijau kurang ideal untuk menu rawat inap.

“Secara umum sayuran berdaun memang jarang disajikan pada menu rumah sakit karena selain alasan praktis seperti penyimpanan dan pengolahan, juga sayuran berdaun cenderung tinggi purin,” ujarnya, dalam keterangan tertulis, Senin 16 Febuari 2026.

Selain kandungan purin, Dr Hana menyebutkan bahwa oksalat dan nitrat yang terdapat pada sayuran berdaun juga menjadi faktor pembatas konsumsi, khususnya bagi pasien dengan kondisi kesehatan tertentu.

Baca Juga  Ramalan Shio Hari Ini 23 Februari 2026: Peruntungan, Karier, dan Cinta

Ia menjelaskan, sayuran berdaun harus segera diolah setelah diterima karena tidak dapat disimpan dalam waktu lama. Kondisi tersebut membuat rumah sakit cenderung memilih jenis sayur yang lebih stabil, aman dikonsumsi oleh mayoritas pasien, serta mudah dikelola dalam skala besar. “Jadi bukan alasan kontaminan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Dr Hana menerangkan bahwa logam berat merupakan kontaminan yang dapat berdampak serius apabila dikonsumsi melebihi batas aman dan dalam jangka waktu panjang. Dalam kondisi tersebut, tubuh tidak lagi mampu menetralkan dan membuang zat berbahaya dari sistem tubuh, sehingga berisiko menimbulkan gangguan ginjal, hati, hingga kanker.

Baca Juga  Prakiraan Cuaca Bogor 17 Desember 2024, Hujan Ringan di Pagi Hari

Namun, ia menekankan bahwa potensi kontaminasi logam berat tidak hanya terdapat pada kangkung. Bahan pangan lain seperti beras dan seafood juga berisiko mengandung logam berat, tergantung pada sumber dan lingkungan produksinya.

Menurutnya, meskipun kangkung berasal dari sumber terkontrol seperti sistem hidroponik dan telah lolos uji keamanan pangan, standar diet rumah sakit tetap mengutamakan jenis sayuran yang paling aman bagi sebagian besar pasien.

“Sayuran berdaun mengalami penyusutan volume yang signifikan setelah dimasak sehingga kurang ideal saat penyajian. Karena itu, sayuran berdaun, tidak terbatas kangkung, jarang digunakan di rumah sakit,” pungkasnya. (Nicko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *