KITAINDONESIASATU.COM. – Gelombang demonstrasi besar-besaran bertajuk aksi “No Kings” dilaporkan mengguncang berbagai penjuru Amerika Serikat pada Minggu, 29 Maret 2026. Sedikitnya 8 juta warga Amerika Serikat mengikuti demo tersebut di hampir seluruh negara bagian AS.
Sebanyak lebih dari 3.000 titik aksi digelar secara serentak dari New York hingga California, menandai salah satu mobilisasi massa terbesar dalam sejarah modern AS sebagai bentuk protes terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump.
Massa yang turun ke jalan menyuarakan kemarahan atas tiga isu krusial yang saling berkelindan. Pertama, mereka menolak narasi politik “No Kings” yang dianggap sebagai kritik tajam terhadap gaya kepemimpinan otoriter dan kebijakan domestik Trump.
Kedua, para pengunjuk rasa mendesak pemerintah untuk segera menghentikan eskalasi militer dan keterlibatan Amerika dalam perang melawan Iran, yang dikhawatirkan akan memicu konflik global lebih luas.
Ketiga, krisis ekonomi yang ditandai dengan inflasi tinggi dan melonjaknya biaya hidup menjadi pemantik utama keresahan warga. Demonstran menuntut reformasi ekonomi yang lebih berpihak pada kelas pekerja daripada korporasi besar.
Di beberapa kota, aksi sempat diwarnai ketegangan dengan aparat keamanan, namun secara umum berlangsung kondusif.
Analis politik memperingatkan bahwa fenomena “No Kings” ini mencerminkan polarisasi yang kian tajam serta ketidakpuasan publik terhadap arah kebijakan luar negeri dan stabilitas ekonomi nasional yang kian memanas.(*)




