Kelompok tersebut kemudian disebut meminta memeriksa kendaraannya dengan alasan motor itu tidak dilengkapi pelat nomor.
“Jadi, pada saat saya mau berangkat kerja tadi pagi, di jalan saya tiba-tiba diserempet sama enam orang. Dipepet, saya hampir terjatuh. Mereka bilang, ‘Ini motor nggak ada pelatnya, kami mau periksa’,” ujar Eko di Polsek Kalideres.
Namun, Eko menolak permintaan itu. Ia mempertanyakan kewenangan kelompok tersebut untuk memeriksa sepeda motornya.
Menurut pengakuannya, situasi semakin memanas ketika ia hendak berputar balik untuk meminta bantuan keluarga. Salah seorang pria disebut menabrak kendaraannya.
Perselisihan pun berlanjut. Eko mengaku kerah bajunya ditarik ketika dirinya tetap mempertanyakan tindakan kelompok tersebut.
“Saya bilang, ‘Lho, kalian kan bukan polisi, apa hak kalian buat periksa-periksa motor saya?’. Terus kerah baju saya langsung ditarik, ‘Kamu jangan sombong, kamu. Kamu anggota (polisi)?’,” tutur Eko.
Di tengah situasi yang menegangkan, Eko melakukan panggilan video kepada seorang anggota Polsek Kalideres untuk meminta bantuan sekaligus menunjukkan kondisi yang sedang dihadapinya.
Ia juga menghubungi Call Center Polri 110 untuk melaporkan kejadian tersebut. Petugas kemudian mendatangi lokasi guna menindaklanjuti laporan korban.
Laporan itu menjadi pintu masuk penanganan perkara yang kini menyeret lima orang sebagai tersangka. Polisi masih mendalami peran masing-masing dalam dugaan pengancaman dan upaya perampasan kendaraan.
Kasus ini kembali menyoroti pentingnya melaporkan dugaan tindak pidana kepada kepolisian ketika masyarakat menghadapi situasi yang mengancam keselamatan. Meski demikian, seluruh dugaan terhadap para tersangka tetap harus dibuktikan melalui proses hukum yang berlaku. (*)






