Ia mengungkapkan bahwa permintaan terhadap sejumlah komoditas desa Indonesia seperti jahe, kopi, pisang, kentang, dan bawang merah terus meningkat di pasar internasional.
“Kami akan memetakan desa-desa yang berpotensi menjadi desa ekspor karena ada puluhan negara yang siap membeli produk unggulan desa dari Indonesia,” katanya.
Dana desa yang dialokasikan sebesar 20 persen untuk program ketahanan pangan disebut menjadi modal utama pengembangan budidaya melon, lele, dan ternak kambing di Desa Tuntang. Program tersebut dinilai berhasil memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat.
Pemerintah berharap keberhasilan Desa Tuntang dapat direplikasi oleh desa lain dengan menyesuaikan potensi unggulan masing-masing wilayah, baik di sektor pertanian, peternakan, pariwisata, maupun industri kreatif.
Selain pengembangan usaha pangan, Desa Tuntang juga telah menyelesaikan pembangunan kantor Koperasi Desa Merah Putih. Fasilitas tersebut nantinya akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat sekitar tanpa menghambat pertumbuhan pelaku UMKM lokal.
Dalam kunjungan kerja tersebut, Mendes Yandri turut didampingi Direktur Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Kemendes PDT, Tabrani, sekaligus meninjau langsung aktivitas usaha masyarakat dan UMKM di desa tersebut.***

