Nasi kuning tidak hanya hadir dalam ritual keagamaan, tetapi juga dijual di pasar tradisional sebagai sarapan praktis yang mengenyangkan.
Sarapan di Bali bukan sekadar mengisi perut, tetapi juga merasakan harmoni budaya. Setiap gigitan kuliner tradisional Bali membawa cerita leluhur yang masih hidup hingga kini.***




