Berdirinya, Raja-raja, dan Peninggalan Menjadi kerajaan Islam berdaulat Pada pertengahan abad ke-16, mulailah corak agama Islam mewarnai pemerintahan Kerajaan Sumedang Larang. Ratu Pucuk Umun, yang memerintah kala itu telah memeluk Islam dan memerintah bersama suaminya, Pangeran Santri, yang bergelar Ki Gedeng Sumedang.
Agama Islam mulai berkembang di wilayah ini pada masa pemerintahan Pangeran Santri (1530-1578 M). Di masa pemerintahannya Sumedang Larang bergabung dengan Kesultanan Cirebon.
Ketika kepemimpinan Ratu Pucuk Umun baru saja digantikan oleh putranya yang bernama Pangeran Angkawijaya pada tahun 1578 M. Kerajaan Pajajaran runtuh akibat serangan Kesultanan Banten. Pangeran Angkawijaya menerima pusaka Pajajaran dan dinobatkan sebagai Raja Sumedang Larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun, dimana pusaka pemberian ini menandakan Sumedang Larang sebagai penerus sah trah Kerajaan Sunda. Menurut Babad Sumedang, wilayah Sumedang Larang dibatasi oleh Laut Jawa di utara, Sungai Cipamugas di barat, Samudra Hindia di selatan, dan Sungai Cipamali di timur. Kerajaan Sunda sendiri runtuh pada tahun 1579 M setelah Pulasari ditaklukan oleh Maulana Yusuf dari Banten (Burak Pajajaran).
Runtuhnya Kerajaan Sunda menjadikan bekas wilayahnya terbagi antara Kesultanan Banten di barat dan Kesultanan Cirebon di timur. Dikarenakan terjadinya Peristiwa Harisbaya, Sumedang Larang dibawah Prabu Geusan Ulun pada tahun 1585 menyatakan diri sebagai negara berdaulat dan terlepas dari Cirebon. Kerajaan Sumedang Larang mencapai puncak kejayaannya, Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh Jawa Barat, kecuali wilayah kekuasaan Kesultanan Banten dan Cirebon.
Kemerdekaan Sumedang Larang tidaklah berlangsung lama, hanya berkisar 35 tahun. Dikarenakan keadaannya saat itu yang relatif lemah dan terjepit antara tiga kekuatan besar (Banten, Cirebon, dan Kesultanan Mataram).
Raja-raja Kerajaan Sumedang Larang Prabu Aji Putih, Prabu Tajimalela, Prabu Gajah Agung, Sunan Guling, Sunan Tuakan, Nyi Mas Ratu Patuakan, Ratu Pucuk Umun, Prabu Geusan Ulun dan Prabu Suriadiwangsa. Menjadi kabupaten di bawah Kesultanan Mataram Ketika Prabu Geusan Ulun turun takhta pada 1601, kekuasaan jatuh ke tangan putranya yang bernama Prabu Suriadiwangsa.
Prabu Suriadiwangsa merupakan raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang, karena pada 1620 kerajaan menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Mataram. Setelah itu, status kerajaan berubah menjadi kabupaten dan pangkat raja turun menjadi adipati (bupati). Hal ini dilakukan karena Sumedang dijadikan sebagai wilayah pertahanan Mataram dalam menghadapi Banten dan Belanda.
Baca juga: 13 Destinasi Wisata di Tanjung Enim yang Wajib Anda Kunjungi
(Oleh: Umm, dikutip dari berbagai sumber)





