Bolu Kering Tebu
Bolu Kering Tebu adalah contoh sempurna bagaimana industri lokal bisa memengaruhi makanan tradisional. Jajanan ini berasal dari wilayah perkebunan tebu di Desa Astanajapura, yang dulu merupakan pusat pengolahan gula aren dan gula tebu.
Bolu kering ini unik karena menggunakan air tebu alami sebagai pemanis, bukan gula pasir. Rasanya manis ringan, renyah, dan meninggalkan aroma khas tanah dan tetesan tebu segar. Namun, seiring runtuhnya perkebunan tebu lokal dan bergesernya lahan pertanian menjadi pemukiman, bahan bakunya semakin sulit didapat.
Menurut arsip Komunitas Heritage Cirebon (2021), terakhir kali Bolu Kering Tebu diproduksi adalah pada era 1980-an oleh seorang nenek bernama Mbah Ruminah.
Kini, hanya foto-foto pudar dan catatan lisan yang tersisa. Inilah ironi dari kemajuan: makanan lezat dikorbankan demi modernisasi.
Kue Apem Geblog
Terakhir, ada Kue Apem Geblog, jajanan yang dulunya tidak sekadar camilan, tapi bagian dari ritual adat. Dibuat dari adonan tepung beras, santan, dan ragi alami, lalu digoreng hingga garing dan berongga—mirip apem, tapi lebih kering dan renyah. Apem Geblog biasanya disajikan dalam upacara sedekah bumi, ruwatan, atau slametan sebagai simbol doa dan syukur.




