Wardah mengandalkan emotional desire dengan menonjolkan identitas brand halal yang relevan dengan segmen muslimah. Sedangkan Traveloka memunculkan desire/ keinginan menggunakan platform melalui narasi emosional “Apa Pun Bisa” yang menekankan kemudahan liburan dan fleksibilitas pembayaran.
Tahap terakhir, ACTION (tindakan), sebagaimana dijelaskan Sahaf, merupakan hasil dari integrasi antara strategi komunikasi dan kesiapan operasional perusahaan. Gojek mendorong Action/ tindakan melalui promo untuk pengguna baru dan akses mudah mengunduh aplikasi.
Tokopedia menempatkan tombol “Beli Sekarang” secara langsung dalam live shopping sehingga transaksi dapat terjadi secara instan. Indomie mengarahkan konsumen untuk membeli melalui promosi di minimarket, display khusus di Alfamart/Indomaret, serta bundling produk di e-commerce.
Wardah menghubungkan seluruh konten promosi dengan tautan pembelian langsung, sementara Traveloka mengintegrasikan CTA dengan program diskon besar seperti Epic Sale dan fitur PayLater yang memudahkan konsumen menyelesaikan transaksi.
Tahap Attention dibangun melalui media yang tepat, Interest ditumbuhkan melalui edukasi yang relevan, Desire diciptakan melalui diferensiasi manfaat dan bukti sosial, dan Action diperkuat oleh kemudahan transaksi serta insentif pembelian.
Keselarasan antara teori dan praktik ini menunjukkan bahwa AIDA bukan sekadar konsep klasik, melainkan alat strategis yang efektif ketika diintegrasikan dengan keputusan pemasaran tingkat strategis, di mulai dari positioning, segmentasi, hingga eksekusi taktis di berbagai titik sentuh konsumen.
Dengan demikian, perusahaan di Indonesia dapat memanfaatkan konsep AIDA untuk memperkuat keunggulan bersaing dan meningkatkan efektivitas pemasaran dalam pasar yang semakin kompetitif.(*)
