KITAINDONESIASATU.COM – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa hingga semester pertama tahun 2024, Satuan Tugas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (Satgas BLBI) telah berhasil mengamankan aset seluas 44,7 juta meter persegi dan memperoleh penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp 38,2 triliun.
Ia mengungkapkan bahwa total kewajiban yang harus dipenuhi oleh obligor BLBI mencapai Rp 110,45 triliun. Untuk menagih kewajiban tersebut, Presiden Joko Widodo membentuk Satgas BLBI melalui Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2021.
BLBI sendiri merupakan dana yang diberikan oleh Bank Indonesia kepada bank-bank umum saat krisis moneter 1997-1998.
Pada saat itu, negara harus melakukan penyelamatan atau bailout untuk menjaga stabilitas ekonomi. Penyelesaian masalah ini diatur melalui pembentukan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), yang bertugas menyuntikkan dana atau menanggung kewajiban bank-bank yang terdampak krisis.
Meski demikian, banyak utang yang tidak dapat sepenuhnya terealisasi, meninggalkan beban besar bagi negara. Karena itu, Satgas BLBI dibentuk untuk memastikan pengembalian utang negara. Beberapa aset hasil penarikan, seperti tanah dan bangunan, telah diserahkan kepada berbagai kementerian dan lembaga negara.
Sebanyak 50 bidang aset telah diserahkan kepada institusi seperti Mahkamah Agung, Kementerian Pertahanan, Kementerian Keuangan, dan lainnya, dengan penggunaan yang ditujukan untuk kantor, rumah dinas, laboratorium, serta fasilitas pendidikan. Sri Mulyani menekankan pentingnya pengelolaan aset ini dengan tertib dan sesuai dengan aturan.
Sementara itu, Grup Texmaco, milik Marimutu Sinivasan, merupakan salah satu obligor terbesar yang masih belum melunasi utangnya.
Pemerintah telah menyita 587 bidang tanah milik Texmaco, dengan total luas 4,79 juta meter persegi di berbagai wilayah. Texmaco memiliki utang sebesar Rp 29 triliun dan 80,57 juta dolar AS.
Utang Texmaco sebagian besar berasal dari pinjaman yang diambil sebelum krisis finansial 1997-1998. Meski bank-bank penyedia pinjaman telah diselamatkan oleh pemerintah, utang Texmaco tetap tidak dapat dilunasi.
Sinivasan juga pernah terlibat dalam berbagai kasus kredit macet dan dugaan penghindaran pajak melalui perusahaan offshore. Hingga kini, ia belum memberikan klarifikasi terkait berbagai masalah tersebut.- ***

