Berita Utama

Strategi Pemasaran Gerilya

×

Strategi Pemasaran Gerilya

Sebarkan artikel ini
Rektor INABA Bandung, Dr. Mochammad Mukti Ali, S.T., M.M.
Rektor INABA Bandung, Dr. Mochammad Mukti Ali, S.T., M.M.

Oleh; Dr. Mochammad Mukti Ali, S.T., M.M

Rektor Universitas INABA Bandung

KITAINDONESIASATU.COM – Pemasaran gerilya merupakan pendekatan yang revolusioner dalam dunia pemasaran, di mana kreativitas dan inovasi menggantikan anggaran besar. Konsep ini tidak hanya mengubah cara perusahaan berinteraksi dengan pelanggan, tetapi juga mengoptimalkan dampaknya terhadap citra merek dan penetrasi pasar.

Pemasaran gerilya, sebagaimana dijelaskan oleh Prabhu TL dalam bukunya “Guerilla Marketing: Unleash Creativity, Maximize Impact, and Transform Your Brand” (2024), adalah seni memaksimalkan dampak pemasaran melalui pendekatan kreatif, unik, dan mengejutkan, tanpa harus mengandalkan anggaran besar dalam mencapai tujuan pemasaran dengan terrah, efektif dan sumber daya terbatas.

Strategi ini sangat relevan di pasar Indonesia yang penuh dengan persaingan, terutama bagi perusahaan yang ingin tampil berbeda di tengah hiruk-pikuk promosi konvensional.

Indomie, produk mie instan dari PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Meskipun Indomie adalah merek besar, kampanye “Indomie untuk Indonesia” di beberapa kota kecil dilakukan dengan pendekatan gerilya. Mereka melakukan mural jalanan bertema nasionalisme dengan desain khas Indomie di tembok-tembok kota, dan mengadakan “warung Indomie gratis” keliling selama pandemi. Taktik ini menyasar langsung ke masyarakat dengan cara yang tidak biasa dan sangat mengena secara emosional.

Strategi ini memperlihatkan prinsip engagement through creativity, salah satu pilar penting dari pemasaran gerilya. Kampanye ini membuat Indomie semakin dipandang bukan hanya sebagai produk makanan, tetapi juga bagian dari identitas budaya lokal.

Grab Indonesia pernah menggelar kampanye gerilya urban yang sangat kreatif melalui kampanye “#AntiNgaret”. Di Jakarta dan beberapa kota besar, Grab menyebarkan jam alarm raksasa, instalasi seni interaktif, dan papan pesan lucu yang diletakkan di tempat umum dengan pesan-pesan seperti “Waktu adalah nasi padang, jangan disia-siakan”.

Mereka juga menggandeng influencer untuk membuat konten mendadak tentang pentingnya waktu dan keandalan transportasi online.

Dengan pendekatan ini, Grab mengandalkan elemen kejutan, keterlibatan publik secara langsung, serta pemanfaatan ruang publik, semuanya adalah elemen inti dalam pemasaran gerilya menurut Prabhu TL. Kampanye ini berhasil menciptakan percakapan organik di media sosial dan meningkatkan jumlah unduhan aplikasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *