KITAINDONESIASATU.COM – Sejak 27 Mei 2025, kekerasan militer Israel terhadap warga Palestina terus memakan korban jiwa. Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari berbagai sumber lokal di Palestina, tercatat setidaknya 115 warga Palestina tewas ditembak pasukan Israel saat mereka mencoba mengakses bantuan yang sangat mereka butuhkan.
Tak hanya itu, lebih dari 580 warga Gaza mengalami luka-luka dalam insiden serupa, mencerminkan skala krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di wilayah yang telah lama terblokade ini. Hingga saat ini, sembilan warga lainnya masih dilaporkan hilang, menambah kekhawatiran atas keselamatan mereka di tengah situasi yang semakin mencekam.
Pada hari pertama Idul Adha, Jumat, 6 Juni 2025, penderitaan rakyat Gaza kembali bertambah. Serangan udara dan tembakan langsung oleh militer Israel di berbagai titik di Jalur Gaza mengakibatkan 33 warga Palestina meninggal dunia. Padahal Hari Raya Idul Adha adalah menjadi momen damai dan kebersamaan, justru berubah menjadi duka mendalam bagi keluarga-keluarga yang kehilangan orang terkasih.
Tragedi ini menandai peringatan Idul Adha keempat sejak Israel memulai kampanye militer besar-besaran yang oleh banyak pengamat dan organisasi hak asasi manusia disebut sebagai bentuk genosida sistematis. Serangan ini telah menyebabkan hampir 54.700 warga Palestina gugur, sebagian besar dari mereka adalah perempuan dan anak-anak.
Lebih dari sekadar angka, perang ini telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat Gaza. Akses terhadap makanan, air bersih, dan layanan kesehatan menjadi sangat terbatas, bahkan hampir tidak tersedia. Kondisi kelaparan ekstrem kini menghantui ribuan keluarga, sementara infrastruktur vital seperti rumah sakit, sekolah, dan tempat ibadah telah hancur akibat bombardir berulang.
Kondisi di Jalur Gaza kini semakin tak layak huni. Wilayah kecil yang padat penduduk ini, yang sebelumnya sudah mengalami krisis akibat blokade bertahun-tahun, kini menghadapi krisis kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern Palestina. Seruan dunia internasional agar kekerasan dihentikan dan bantuan kemanusiaan diberi akses penuh pun semakin menguat. (*)


