Opini KitaBisnis

Strategi Bisnis: Samudera Merah (Red Ocean) vs Samudera Biru (Blue Ocean)

×

Strategi Bisnis: Samudera Merah (Red Ocean) vs Samudera Biru (Blue Ocean)

Sebarkan artikel ini
Rektor INABA Bandung, Dr. Mochammad Mukti Ali, S.T., M.M.
Rektor INABA Bandung, Dr. Mochammad Mukti Ali, S.T., M.M.

Oleh: Dr. Mochammad Mukti Ali ST., M.M

Rektor Universitas INABA Bandung

DALAM dunia bisnis yang kompetitif, perusahaan ritel di Indonesia menghadapi pilihan strategis yaitu apakah akan bersaing secara langsung di pasar yang sudah padat (Red Ocean/Samudera Merah) atau menciptakan pasar baru yang belum tergarap (Blue Ocean/ Samudera Biru).

Kedua strategi ini menunjukkan pendekatan yang sangat berbeda dalam mengelola persaingan dan pertumbuhan bisnis. Untuk menggambarkan hal ini, mari kita bahas contoh nyata di Indonesia, yaitu persaingan antara Matahari Department Store dan Love-Bonito Indonesia.

Strategi Samudera Merah (Red Ocean) dapat diartikan bahwa perusahaan masuk ke dalam pasar yang sudah ada, di mana permintaan relatif tetap dan perusahaan sejenis/ kompetitor banyak. Fokusnya adalah bagaimana memenangkan kompetisi dengan cara mengalahkan pesaing, melalui harga jual, promosi, dan efisiensi operasional.

Baca Juga  Gaji Tina Talisa Bocor, Komisaris Pertamina Bisa Raup Rp21 Miliar Setahun?

Matahari Dept. Store merupakan salah satu peritel pakaian terbesar di Indonesia yang telah beroperasi puluhan tahun.Strategi yang dijalankan dengan cara menjual berbagai macam produk fashion untuk semua segmen target di berbagai pusat perbelanjaan di kota-kota besar.

Matahari bersaing langsung dengan peritel besar lainnya seperti Ramayana dan Centro baik dalam hal harga diskon, koleksi umum, dan jumlah gerai fisik.Tantangan dari Matahari adalah perubahan perilaku konsumen yang mulai beralih ke belanja online dan lebih menyukai produk yang lebih spesifik dan relevan secara gaya hidup.

Sebaliknya, strategi Samudera Biru (Blue Ocean) memfokuskan pada inovasi nilai, yaitu menciptakan produk atau layanan yang berbeda dengan kompetitor/pesaing sehingga perusahaan tidak perlu bersaing langsung dengan pemain lama.

Love-Bonito Indonesia merupakan brand fashion wanita asal Singapura yang hadir di Indonesia dan mempunyai target pasar perempuan muda urban kelas menengah. Strategi yang dijalankan dengan cara fokus pada desain khusus untuk tubuh wanita Asia, yang tidak dilakukan oleh brand fashion global maupun lokal.

Baca Juga  “CHANGE” Your Customer Mindset, Strategi Mengelola Hubungan Berkelanjutan dengan Pelanggan

Proses penjualan dengan cara menggabungkan platform online dan toko offline berkonsep showroom experience. Selain itu Love-Bonito Indonesia membangun komunitas dengan konten edukatif tentang fashion dan karier wanita untuk menciptakan emosional engagement dengan pelanggan.

Love-Bonito berhasil menciptakan segmen pasar baru di Indonesia yang sebelumnya belum tergarap secara spesifik yaitu fashion lokal premium untuk wanita muda Asia.

Dalam konteks perubahan perilaku konsumen ke arah digital, personalisasi, dan pengalaman yang unik, strategi Samudera Biru (Blue Ocean) yang diterapkan oleh Love-Bonito terbukti lebih unggul dibandingkan strategi Samudera Merah (Red Ocean) yang digunakan oleh Matahari Departemen Store, Metro, Ramayana dan retail modern lainnya.

Baca Juga  DAFTAR Nama Menteri Bidang Ekonomi di Pemerintahan Prabowo

Love-Bonito Indonesia berhasil menciptakan pasar baru, menarik pelanggan dengan nilai keunikan, menghindari perang harga dan menumbuhkan loyalitas pelanggan. Sementara itu, Matahari harus berjuang keras untuk bertahan di tengah tekanan dari e-commerce dan shifting preferensi generasi muda, hal ini menunjukkan adanya keterbatasan dari strategi Samudera Merah (Red Ocean) jika tidak diikuti dengan inovasi.

Strategi Samudera Merah (Red Ocean) dan Samudera Biru (Blue Ocean) merupakan dua pendekatan strategi yang dapat diterapkan dalam bisnis ritel di Indonesia. Dalam contoh Matahari Dept. Store vs. Love-Bonito Indonesia, terlihat bahwa Strategi Samudera Biru (Blue Ocean) lebih unggul dalam jangka panjang, terutama ketika konsumen mencari keunikan, nilai tambah, dan pengalaman yang lebih personal. Oleh karena itu, perusahaan perlu secara aktif mengevaluasi ulang strategi yang dijalankan untuk memastikan relevansi dan keberlanjutan dalam pasar yang terus berubah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *