Lifestyle

Menelusuri Arsitektur dan Filosofi Rumah Betang Suku Dayak di Kalimantan

×

Menelusuri Arsitektur dan Filosofi Rumah Betang Suku Dayak di Kalimantan

Sebarkan artikel ini
FotoJet 13
Rumah Betang suku Dayak

KITAINDONESIASATU.COM – Rumah Betang adalah rumah panjang tradisional milik suku Dayak yang terletak di Kalimantan Barat, tepatnya di Desa Saham, Kecamatan Sengah Temila, tidak jauh dari jalan raya internasional Pontianak – Kuching.

Dengan panjang 310 meter dan lebar 18 meter, rumah ini dihuni oleh lebih dari 30 kepala keluarga yang masih memiliki hubungan kekerabatan.

Rumah Betang menjadi satu-satunya peninggalan rumah panjang suku Dayak di Kabupaten Pontianak.

Lebih dari sekadar tempat tinggal, Rumah Betang adalah simbol dari kehidupan sosial masyarakat Dayak.

Baca Juga  Rumah Betang: Benteng Tradisional Masyarakat Pedalaman Kalimantan

Budaya Betang mencerminkan prinsip kebersamaan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di rumah panjang ini, kehidupan keluarga dan masyarakat diatur berdasarkan kesepakatan bersama yang dituangkan dalam hukum adat.

Konsep kebersamaan, seperti saling berbagi makanan, kasih sayang, dan tenaga untuk mengolah ladang, menjadi nilai utama yang mengikat penghuninya meskipun mereka memiliki perbedaan.

Ini mencerminkan bahwa suku Dayak menghargai perbedaan suku, agama, dan latar belakang sosial.

Rumah Betang memiliki ciri khas bentuk panggung dan memanjang.

Untuk suku Dayak, rumah panjang yang dibangun di hulu sungai harus searah dengan matahari terbit dan terbenam, melambangkan perjuangan keras untuk bertahan hidup dari teriknya matahari hingga kembali saat matahari terbenam.

Baca Juga  Kominfo Buka Banyak Formasi CPNS 2024, Gajinya Hingga Rp 7 Juta ! Buruan Daftar

Rumah Betang memiliki tiga ruang utama: ruang pertama untuk hubungan manusia dengan alam surgawi, ruang kedua untuk hubungan manusia dengan penghuni surga, dan ruang ketiga sebagai ruang fisik yang tidak terlihat.

Kematian dalam budaya Suku Dayak Ngaju sangat dihargai, karena upacara Tiwah dilakukan untuk mengantar roh orang yang meninggal ke alam surga.

Sebagian besar Rumah Betang terdiri dari ruang terbuka yang disebut radakng (serambi), digunakan untuk berbagai aktivitas seperti ritual adat dan kerajinan anyaman.

Rumah ini terbuat dari kayu ulin, dihiasi ukiran dan lukisan khas Dayak, serta sering digunakan untuk latihan tari dan pertunjukan seni pada kesempatan tertentu.-***

Baca Juga  Rumah Betang, Warisan Arsitektur Kolektif Suku Dayak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *