KITAINDONESIASATU.COM – Nuraini Rahma Hanifa, Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengungkapkan potensi maksimal gempa yang dapat terjadi di 15 segmen megathrust di Indonesia.
Segmen-segmen ini membentang dari pesisir barat Sumatera Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga utara Sulawesi dan Papua.
Rahma menjelaskan bahwa potensi gempa di beberapa segmen ini dapat mencapai magnitudo hingga 9.0.
Dia merinci bahwa segmen Aceh-Andaman memiliki potensi gempa hingga 9,2 magnitudo, sementara segmen lain seperti Nias-Simeulue dan Bali juga berpotensi mengalami gempa di atas 8,5 magnitudo.
Rahma menekankan bahwa gempa megathrust ini memiliki siklus yang berulang, seperti yang terjadi di Aceh pada tahun 2004, Pangandaran pada 2006, dan Pacitan pada 1994.
Risiko gempa tidak hanya ditentukan oleh besarnya magnitudo, tetapi juga oleh jumlah penduduk di daerah yang terdampak.
Menurut Rahma, Pulau Jawa merupakan salah satu daerah dengan risiko tinggi karena tingginya kepadatan penduduk. Dia juga menekankan bahwa gempa megathrust adalah fenomena alam yang tidak dapat dihindari, sehingga penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk meningkatkan kesiapan dalam menghadapi potensi gempa tersebut.
Rahma menegaskan bahwa kesiapan menghadapi gempa masih menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh elemen masyarakat.
Dia mengingatkan bahwa kepanikan adalah salah satu penyebab utama tingginya korban jiwa dalam bencana alam, seringkali disebabkan oleh kekhawatiran terhadap bangunan yang tidak tahan gempa.
Berkaca pada Jepang, dia mencatat bahwa bangunan di negara tersebut dibangun dengan standar khusus yang tahan gempa, sehingga mengurangi kepanikan.
Rahma mengusulkan bahwa upaya mitigasi bencana di Indonesia harus berbasis pada sains dan teknologi, seperti pembangunan rumah tahan gempa dan modernisasi sistem peringatan dini.
Selain itu, sosialisasi mengenai jalur evakuasi juga penting untuk mengurangi kepanikan dan meningkatkan kesiapan masyarakat dalam menghadapi gempa megathrust.- ***


