Hukum

CEO Telegram Jaminkan 5 Juta Euro, Hanya Bebas di Perancis

×

CEO Telegram Jaminkan 5 Juta Euro, Hanya Bebas di Perancis

Sebarkan artikel ini
Pavel Durov
Pavel Durov, pencipta Telegram saat di Pulau Bali. Foto: Instagram@durov

KITAINDONESIASATU.COM – Pavel Durov, CEO Telegram, telah dibebaskan dari tahanan tetapi dilarang meninggalkan Prancis, ia harus melakukan wajib lapor ke kantor polisi setempat.

Durov didakwa atas serangkaian pelanggaran terkait dengan aplikasi Telegram, termasuk keterlibatan dalam kegiatan ilegal seperti perdagangan narkoba, penipuan, dan penyebaran konten anak di bawah umur.

Selain itu ia juga dilarang keluar dari Prancis dan wajib melapor dua kali seminggu ke polisi dengan jaminan 5 juta euro sekitar Rp90 miliar.

Penyelidikan terhadap Durov masih berlangsung, dan kasus ini dapat berlangsung bertahun-tahun hingga sampai ke meja pengadilan.

Pavel Durov, pendiri aplikasi Telegram, awalnya merasa bahwa komunikasi dengan timnya tidak aman dan tidak terenkripsi, serta selalu berada di bawah pengawasan pemerintah Rusia.

Karena tidak ada perangkat komunikasi yang benar-benar aman, ia mulai memikirkan cara untuk mengembangkan aplikasi yang dapat melindungi privasi penggunanya. Dari sinilah lahir ide untuk menciptakan Telegram, sebuah platform yang aman dari pelanggaran privasi.

Hal serupa juga dialami oleh Jan Koum, yang tumbuh di bawah pengawasan pemerintah Ukraina pada masa Uni Soviet.

Pengalaman ini membuatnya sangat menghargai kebebasan dan privasi, yang akhirnya mendorongnya untuk mengembangkan WhatsApp dengan tujuan yang sama—menciptakan komunikasi yang aman dan bebas dari campur tangan pihak ketiga.

Setelah Telegram berhasil meraih market share dalam aplikasi kirim pesan, Pavel Durov mendapat tekanan dari pemerintah Rusia untuk mematuhi regulasi dan memberikan otorisasi kepada pemerintah untuk mengatur Telegram.

Namun, Durov menolak permintaan tersebut dan akhirnya memindahkan kantor Telegram ke Dubai yang dianggap lebih aman untuk perkembangan perusahaan.

Berbeda dengan Telegram yang memilih untuk meninggalkan negaranya, WhatsApp memutuskan untuk mematuhi regulasi pemerintah di berbagai negara, termasuk AS dan Eropa.

Jan Koum kemudian menjual WhatsApp ke Facebook, dan setelah akuisisi ini, WhatsApp mulai menghadapi tekanan yang lebih besar dari pemerintah untuk intervensi tata kelola data pengguna.

Belakangan, Pavel Durov ditangkap dan ditahan di Prancis atas tuduhan yang belum jelas.

Penangkapan ini memicu protes dari berbagai pihak, termasuk Elon Musk yang mendukung Durov dan menyerukan pembebasannya dengan tagar Free Durov, sembari terus menyuarakan Freedom of Speech. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *