KITAINDONESIASATU.COM – Kasus keracunan makanan yang menimpa ratusan siswa di Cianjur setelah mengonsumsi sajian dari MBG (Makan Bergizi Gratis) menjadi sorotan publik. Salah satu hal yang memicu kekhawatiran adalah dugaan bahwa dapur penyedia makanan MBG tidak memiliki lemari pendingin untuk menyimpan bahan makanan seperti ayam mentah.
Informasi ini mencuat lewat unggahan akun Twitter @sagitaninta pada 25 April 2025, yang mengutip laporan media Tempo.
Dalam cuitannya, Sabhrina Aninta mengkritik keras kondisi dapur MBG yang tetap menyajikan makanan meski tanpa fasilitas dasar seperti kulkas. Cuitan itu menjadi viral dan telah ditonton lebih dari 228 ribu pengguna Twitter, memicu beragam komentar dari warganet.
“Mau nangis baca laporan Tempo soal keracunan MBG. Bisa-bisanya bermain-main dengan nyawa anak-anak sebanyak itu? Dapurnya gak punya lemari es buat nyimen ayam terus pede besoknya digoreng tepung buat anak-anak? SDM kita juga dasarnya skill issue dan gak dibenerin dari awal,” ujarnya.
“Hal yang sama masih gak paham gimana pertanggungjawaban negara atas kasus gagal ginjak akut 2022 lalu,” tulis akun @daprangs.
“Di sekolah anakku sempat ada yang muntah juga gara-gara melonnya berlendir, sama buncis yang basi,” jelas akun @imanialin.
“Kenapa sih gak diserahkan dikelola ortu murid, tinggal atur oleh komite. Ortu pasti senang membantu kalau punya rasa memiliki sekolah dan dekat dengan guru-guru,” tandas akun @catlover17081.
Beberapa netizen bahkan mengaitkan kasus ini dengan tragedi gagal ginjal akut pada 2022 serta membagikan pengalaman pribadi terkait kualitas makanan sekolah. Ada pula yang mengusulkan agar pengelolaan makanan diserahkan kepada komite sekolah dan orang tua murid.
Menanggapi temuan ini, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hidayana membenarkan kondisi dapur tersebut dan memberikan dua rekomendasi: mengganti wadah plastik dengan bahan lain serta memperbaiki sistem distribusi bahan makanan. Ia juga menegaskan bahwa evaluasi harian dilakukan setiap pukul 16.00 WIB untuk mencegah kejadian serupa.
“Kami selalu evaluasi tiap hari, setiap jam 16.00 WIB kami melakukan evaluasi, jadi apapaun yang terjadi, kami evaluasi tiap hari,” tandas Dadan Hidayana terkait dengan kasus keracunan MBG di Cianjur tersebut


