KITAINDONESIASATU.COM – Hari Raya Idul Fitri telah berlalu, namun kemeriahan dan tradisi di Indonesia masih berlanjut dengan adanya Lebaran Ketupat. Perayaan yang jatuh seminggu setelah Idul Fitri ini, tepatnya pada tanggal 8 Syawal dalam kalender Hijriah, menjadi penutup dari rangkaian ibadah puasa dan perayaan hari raya.
Lebaran Ketupat, khususnya populer di kalangan masyarakat Jawa, Madura, dan beberapa daerah lainnya di Indonesia, memiliki ciri khas utama yaitu penyajian dan hidangan ketupat. Ketupat sendiri adalah nasi yang dibungkus anyaman daun kelapa muda (janur) berbentuk segi empat atau belah ketupat, kemudian direbus hingga matang.
Tradisi ini dipercaya bermula dari inisiatif Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Walisongo yang menyebarkan agama Islam di Jawa pada abad ke-15 dan ke-16. Beliau memperkenalkan ketupat sebagai simbol perayaan setelah berpuasa enam hari di bulan Syawal, yang dikenal sebagai puasa Syawal.
Lebaran Ketupat bukan hanya sekadar pesta makan ketupat. Lebih dari itu, perayaan ini sarat akan makna kebersamaan, silaturahmi, dan saling memaafkan. Masyarakat biasanya berkumpul bersama keluarga dan tetangga, saling bertukar ketupat dan hidangan lainnya, serta mempererat tali persaudaraan.
Secara filosofis, bentuk dan bahan ketupat juga memiliki makna tersendiri. Anyaman janur melambangkan jalinan hidup dan kesalahan manusia, sedangkan nasi putih di dalamnya melambangkan kesucian dan kebersihan hati setelah bermaaf-maafan. Bentuk segi empat ketupat juga dikaitkan dengan empat kiblat atau empat arah mata angin, yang melambangkan ke mana pun manusia pergi, ia akan selalu kembali kepada Sang Pencipta.
Hingga kini, Lebaran Ketupat tetap menjadi tradisi yang dilestarikan dan dirayakan dengan antusias oleh masyarakat Indonesia. Perayaan ini menjadi momen penting untuk memperkuat nilai-nilai kekeluargaan, gotong royong, dan harmoni sosial setelah menjalani bulan Ramadan.
Di antara masyarakat yang merayakan Lebaran Ketupat yakni; Demak, Kudus, Pati, Rembang, Tuban, Madura dan lainnya. Banyak di antara warga yang balik ke Jakarta atau kota besar lainnya usai merayakan Lebaran Ketupat di kampung halamannya masing-masing.
“Kami sudah biasa merayakan Lebaran Ketupat. Makanya baru pulang kembali ke Jakarta setelah merayakan Lebaran Ketupat bertempatan hari ke 8 syawal,” kata Nurkholis, warga Kudus kepada kitaindonesia.satu.com, Minggu (6/4/2025). (*)


