Oleh Suparman Romans
Ketua DPW Pekat Indonesia Bersatu Sumsel
UNTUK beberapa hari ini, kota Palembang yang sudah tersohor hingga ke mancanegara sebagai kota pempek seakan tenggelam, justru muncul trend baru sebagai kota rendang. Padahal kita masyarakat indonesia tahu bahwa rendang identik dengan menu khas masyarakat Padang Sumatera Barat.
Konten kreator yang lagi booming, Willie Salim, menjadi tokoh sentral yg mampu merubah predikat tersebut hanya dalam tempo kuramg dari 1 minggu.
Namun sangat disayanglan predikat yang disematkan oleh Willie Salim berkonotasi negatif, bahkan mengundang reaksi keras hampir seluruh tokoh masyarakat Sumsel baik yang di daerah maupun sudah melanglang buana di tingkat nasional.
Jika di Palembang reaksi keras ditunjukkan oleh tokoh-tokoh aktifis, ormas, seniman dan budayawan, hingga masyarakat awam, maka di Jakarta tokoh putra Sumsel yang menjadi public figur juga angkat bicara, antara lain Helmi Yahya, Andromeda, dr. Richard Lee, dll.
Wajar seluruh elemen warga Sumsel marah dan tersinggung, karena dampak dari postingan Willie Salim di berbagai media dengan judul yang cukup sarkastis ” TRAGEDI RENDANG HILANG” menjadikan Kota Palembang bulan-bulanan sindiran, ejekan, bully-an netizen yang menjadi followers Willie Salim jumlahnya mencapai puluhan juta.
Yang jelas hasil kreatifitas Willie Salim mampu menggoncangkan sekaligus menyulut emosi warga Sumsel.
Namun dengan tidak menafikan dampak negatif dari postingan Willie Salim , saya melihat dalam perspektif yang lain, bahwa dibalik kegaduhan yg telah diciptakan olehnya, ada hikmah besar bisa memberiksn manfaat bagi masyarakat Sumsel khususnya kota Palembang.
Rasa sensitifitas dan solidaritas semua tokoh2 penting yang menjadi public figur muncul secara spontanitas. Sikap patriotisme ditunjukkan oleh mereka untuk menjaga harkat dan martabat masyarakat Palembang. Bahkan ada inisiatif dari mereka untuk menggelar kegiatan makan besar “tandingan” guna mencuci noda yang ditinggalkan oleh Willie Salim bagi masyarakat Palembang.
Respon positif dari para tokoh public figur inilah yg saya maksudkan bisa menjadi hikmah serta keberkahan bagi kota Palembang. Jika Willie Salim berani memasang tagline “makan besar” maka para tokoh pun akan mampu memasang tagline ” HAJAT AKBAR”.
Kita hitung saja jika ada 20 tokoh nasional.maupun lokal bersedekah masing2 200 kg daging, maka paling tidak ada 2 ton daging masak yang bisa dinikmati oleh warha kota Palembang. Dan jika Willie Salim hanya mampu bersedekah daging sapi, maka para tokoh akan lebih lengkap dengan menu malbi dan kari, dengan iringan nasi minyak, yang betul2 bernuansa hidangan khas palembang.
Ada hikmah dibalik peristiwa, ungkapan itu seakan menjadi idiom filosofis kehidupan masyarakat Palembang.
Saatnya Tantowie Yahya, Helmi Yahya, dr. Richard Lee, Andromeda, Farah Queen, dan para selebritis nasional pulang kampung untuk mewujudkan niatan ini. Dan tentu tidak boleh kita lewatkan, saatnya pula bagi anggota legislatif dan pejabat negara yang memiliki ikatan emosional dengan bumi Sriwijaya menunjukkan kedermawanannya untuk berbagi dengan masyarakat Sumsel dibulan yang mulia dan suci Ramadhan 1446 H.
Sekaligus kita akan menghapus stigma negatif terhadap para legislator kita di Senayan bahwa mereka sangat royal hanya pada momen kampanye meminta suara rakyat. Saatnya Sumsel bangkit menata diri dan semakin solid, salam takzim.
#Palembang tertib, Palembang hebat#.




