Lifestyle

Keindahan Arkeologi dan Ritual Suci di Tampak Siring, Bali

×

Keindahan Arkeologi dan Ritual Suci di Tampak Siring, Bali

Sebarkan artikel ini
FotoJet 4 1
Pura Tirta Empul di Tampak Siring, dibangun mengelilingi mata air suci

KITAINDONESIASATU.COM – Pura Tirta Empul merupakan sebuah pura yang terletak di Tampak Siring, dibangun mengelilingi mata air suci yang telah dikenal sejak tahun 926 Masehi.

Situs ini disebut dalam sebuah prasasti kuno dan menampilkan ukiran-ukiran yang indah, termasuk relief burung Garuda di beberapa bagian bangunan.

Selama lebih dari seribu tahun, masyarakat Bali telah memanfaatkan pura ini sebagai tempat ritual penyucian untuk kesehatan dan kesejahteraan. Upacara pembersihan spiritual pun secara rutin diadakan di pura ini.

Tidak jauh dari jalan utama di Tampak Siring, terdapat kompleks Gunung Kawi yang terkenal dengan tugu-tugu batu raksasa yang dipahat langsung pada dinding tebing di kedua sisi lembah sungai yang menawan.
Diperkirakan berasal dari abad ke-11, situs ini menjadi salah satu peninggalan arkeologi paling megah di Bali.

Seniman lokal di Tampak Siring juga dikenal karena keahlian mereka dalam mengukir tulang dan gading.

Baik Pura Tirta Empul maupun Gunung Kawi terbuka untuk pengunjung setiap hari.

Untuk mencapainya dari Ubud, wisatawan dapat menggunakan bemo menuju Tampak Siring melalui Bedulu, yang terletak di tenggara Ubud.

Kompleks arkeologi Gunung Kawi berlokasi di ngarai Sungai Pakerisan. Untuk mencapai area ini, pengunjung harus berjalan sekitar 600 meter dari area parkir menuju loket tiket, lalu menuruni 315 anak tangga batu.

Sebelum menyeberangi jembatan di dasar lembah, wisatawan bisa melihat tugu batu pertama dengan berbelok ke kiri. Sementara itu, kelompok tugu lainnya dapat ditemukan di sisi kiri kompleks candi utama, tepat di seberang sungai.

Monumen-monumen di Gunung Kawi dipahat langsung dari batu cadas, menyerupai menara pemakaman yang lazim ditemukan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Meskipun asal-usulnya masih diperdebatkan, salah satu teori yang kuat menyebutkan bahwa lima candi utama dibuat untuk menghormati Raja Udayana, ratu asal Jawa bernama Gunapriya, seorang selir, serta kedua putranya—Airlangga yang kelak menjadi penguasa Jawa Timur, dan Anak Wungsu yang memerintah Bali dari tahun 1050 hingga 1077 M.

Anak Wungsu diyakini meninggalkan takhta untuk menjalani kehidupan sebagai pertapa.

Di sisi kanan kompleks candi utama, terdapat biara batu dengan lima sel yang diduga digunakan oleh para penjaga candi.

Tidak jauh dari biara utama, terdapat kompleks pertapaan dengan ceruk-ceruk batu yang diperkirakan menjadi tempat beristirahat bagi para peziarah.

Untuk memasuki bagian dalam candi, pengunjung diwajibkan melepas alas kaki sebagai bentuk penghormatan.

Jalan setapak ke utara kompleks candi menawarkan pengalaman berjalan kaki yang menyenangkan di antara sawah dan aliran sungai yang jernih.

Sekitar 800 meter dari lokasi, terdapat air terjun kecil, sementara jika berjalan lebih jauh sejauh 1,5 kilometer, wisatawan dapat menemukan Candi Mengening, situs bersejarah lain yang masih memiliki nuansa spiritual yang kental.- ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *