KITAINDONESIASATU.COM – Anggota Komisi IV DPR RI, Riyono, mengusulkan pembentukan “Bulog mini” di setiap kabupaten/kota guna mengendalikan harga pangan secara lebih efektif.
Ia menilai bahwa selama ini pemerintah terlalu bergantung pada operasi pasar, yang dinilainya hanya sebagai solusi sementara.
“Pangan harus selalu tersedia. Jangan sampai penurunan daya beli masyarakat memengaruhi stabilitas ekonomi dan pertumbuhan nasional,” ujar Riyono dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertajuk “Menjaga Stabilitas Harga Pangan Jelang Ramadhan”, seperti ditulis Parlementaria pada Jumat (28/2/2025).
Dengan anggaran Rp16 triliun yang dimiliki Badan Pangan Nasional untuk menyerap tiga juta ton beras, ia berharap pemerintah dapat bertindak lebih cepat guna mencegah kepanikan masyarakat menjelang bulan Ramadan.
Selain itu, Riyono menekankan pentingnya langkah konkret dari pemerintah untuk menjaga stabilitas harga pangan, terutama menjelang bulan puasa ketika harga sejumlah komoditas biasanya meningkat.
“Kenaikan harga pangan selalu terjadi setiap tahun. Yang terpenting adalah bagaimana pemerintah hadir untuk memastikan kestabilan harga dan ketersediaan pangan di pasaran,” kata politisi dari Fraksi PKS ini.
Ia menilai bahwa tingginya harga pangan di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk daya beli masyarakat yang lemah serta kebijakan penetapan harga yang kerap terlambat.
Komisi IV DPR RI pun telah melakukan pemantauan di beberapa daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta, yang menunjukkan tren kenaikan harga sejumlah bahan pokok.
Contohnya, harga beras Bulog berada di kisaran Rp12.000–Rp13.000 per kilogram, sementara harga ayam potong mengalami kenaikan dari Rp35.000 menjadi Rp38.000 per kilogram.
Lebih lanjut, Riyono menyoroti peran Perum Bulog, yang dinilainya belum mampu mengendalikan harga pasar secara efektif karena hanya menguasai sekitar 3–5 persen peredaran beras nasional.
“Bulog harus lebih diperkuat agar tidak hanya menjadi pemain kecil di pasar,” tegasnya.
Berdasarkan data dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), biaya yang harus dikeluarkan masyarakat Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi mencapai USD 4,47 per hari atau sekitar Rp69.000. Angka
ini lebih tinggi dibandingkan negara-negara tetangga seperti Thailand (USD 4,3), Filipina (USD 4,1), Vietnam (USD 4), dan Malaysia (USD 3,5).- ***


