KITAINDONESIASATU.COM – Suku Asmat, yang mendiami wilayah pesisir tenggara Papua di sekitar Agats, dikenal karena seni ukir kayu khas yang sering disebut “primitif”.
Peradaban modern baru menjangkau daerah ini dalam beberapa dekade terakhir.
Di Agats sendiri terdapat sebuah museum yang menyimpan berbagai koleksi ukiran kayu serta benda seni lainnya. Meski demikian, sebagian besar wilayah tersebut masih berupa hutan lebat yang belum banyak tersentuh oleh perkembangan zaman.
Pada akhir 1960-an, upaya untuk melestarikan seni ukir Asmat mendapat dukungan dari proyek yang didanai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Program ini bertujuan untuk mendorong para pengrajin lokal agar tetap mempertahankan warisan seni mereka di tengah arus perubahan.
Suku Asmat tinggal di daerah pesisir selatan Papua yang terkenal terjal dan sulit diakses, dengan luas wilayah sekitar 10.000 mil persegi yang sebagian besar terdiri dari rawa-rawa serta hutan bakau.
Salah satu aspek penting dalam budaya Asmat adalah pembuatan figur leluhur, yang awalnya hanya dibuat untuk upacara Fumer-ipits.
Figur-figur ini biasanya dikenakan dengan kostum khas. Sebelum adanya permintaan dari wisatawan, patung-patung tersebut akan dibuang ke hutan setelah ritual selesai, khususnya di sekitar pohon sagu.
Hal ini didasarkan pada kepercayaan bahwa ketika kayu ukiran tersebut membusuk, roh leluhur akan berpindah ke pohon sagu. Selain itu, ukiran figur leluhur juga sering menjadi bagian dari elemen lain, seperti haluan perahu, dayung, atau galah leluhur.
Suku Asmat memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu memiliki roh, termasuk manusia, hewan, tumbuhan, bahkan tempat-tempat tertentu seperti pusaran air atau dasar sungai.
Mereka juga membedakan dunia menjadi dua bagian, yaitu dunia yang terlihat dan dunia yang tidak terlihat atau alam roh. Menjaga keseimbangan antara keduanya dianggap sangat penting.
Dalam kepercayaan mereka, kelahiran dan kematian merupakan dua hal yang saling berkaitan untuk menjaga keseimbangan populasi di kedua alam tersebut.
Jika keseimbangan ini terganggu, maka diyakini akan muncul berbagai musibah seperti penyakit, kelaparan, kematian, atau kesialan akibat roh-roh yang tidak tenang.- ***


