KITAINDONESIASATU.COM – Sektor perikanan di Gresik pada tahun 2025 optimis bakal merah kesuksesan seperti tahun sebelumnya yang mencatatkan angka impresif.
Dari data tahun 2024 produksi ikan bandeng di Gresik mencatatkan nilai yang impresif mencapai 90.416 ton dengan nilai produksi sebesar Rp1,7 triliun.
Anggka ini memperlihatkan adanya keberhasilan sektor perikanan budidaya, khususnya ikan bandeng yang bisa menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
Sementara total produksi ikan budidaya di wilayah Gresik mencapai 155.072 ton dengan nilai produksi mencapai Rp3,2 triliun.
Wilayah Gresik sendiri saat ini memiliki lahan tambak seluas 28.000 hektare yang mensuport keberhasilan budaya bandeng di wilayah itu.
Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gresik bandeng tetap mendominasi produksi terbesar di antara budaya sektor produk perikanan dan kelautan di wilayah itu.
SIM Keliling Gresik Minggu ini, Februari 2025, Jadwal dan Lokasinya
Berikut ini data produksinya pada tahun 2024, dengan rincian sebagai berikut:
- Ikan Bandeng sebesar 90.416 ton nilai produksi Rp1,78 triliun
- Udang 17.805 ton nilai ekspor Rp954 miliar
- Kerang hijau 30.851 ton
- Kakap Putih 12.149 ton
- Nila 7.712 ton
- Kerapu 6.584 ton
- Patin 4.437 ton
- Udang windu 2.678 ton.
Sebelumnya Kadis Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gresik, melalui Kepala Bidang Perikanan, Ratna mengungkapkan jenis produk budaya perikanan yang paling uat adalah Bandeng dan Udang Vaname.
Kabid Perikanan Gresik ini menjelaskan jika beberapa jenis ikan lain memperlihatkan tren yang menarik untuk dikembangkan di luar bandeng dan udang vaname.
Luasan tambak di wilayah Kabupaten Gresik juga memungkinkan produksi ikan dalam skala besar, sementara bandeng dan udang vaname sajauh ini masih menjadi andalan.
Namun untuk produksi budaya lain juga terus berkembang susuai permintaan pasar, ini menunjukkan adanya potensi perkianan budidaya di Gresik masih besar.
Meski demikian bukan berarti tidak ada kendala dialami para petambak di Gresik, masalah pakan yang terus naik dan kelangkapan pupuk subsidi menjadi kendala utama para petamak di wilayah ini.
Seorang petambak Sudasono dari wilayah Kecamatan Ujungpangkah menjelaskan kenaikan biaya operasioal membuat keuntungan makin tipis.
Dirinya mengaku bisa memproduksi banyak, tetapi kalau ongkos makin naik dan harga jual tidak stabil para petambak akan mengalami kesulitan berkembang.
Itu sebabnya petani tambak berharap ada kebijakan dari pemerintah yang mendukung pertumbuhan sektor budidaya perikanan di Gresik. **





