KITAINDONESIASATU.COM – Syirik merupakan perbuatan menyekutukan atau menduakan Allah dengan sesuatu atau orang lain. Perbuatan syirik merupakan dosa besar yang tidak dapat diampuni, kecuali sungguh-sungguh bertobat tidak mengulanginya kembali.
Tanpa sadar dosa syirik menyelimuti dalam kehidupan kita, terlebih bagi orang awam. Sebab, banyak orang hanya tahu syirik itu adalah melakukan penyembahan seperti sesajen pada arca, berhala, matahari, pohon keramat dan sebagainya.
Sebagaimana film Allah SWT perbuatan syirik tidak dapat diampuni:
إِنَّ ٱللهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللهِ فَقَدِ ٱفْتَرَىٰٓ إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. an-Nisa’: 48)
Maka sangat penting bagi seorang mukmin untuk mengenal dan menjauhi semua jenis syirik agar kelas selamat di akhirat.
Syekh Ibnu Dihaq (611 H), seorang teolog ternama di abad ketujuh hijriah mendefinisakan syirik sebagai: إضافة الفعل لغير الله سبحانه وتعالى
“Menyandarkan perbuatan [secara mandiri] pada selain Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi”. (as-Sanusi, Syarh ‘Aqîdati Ahli at-Tauhîd al-Kubrâ, 91)
Di sini artinya, bahwa usaha atau ikhtiar yang kita lakukan tanpa campur tangan Allah SWT adalah perbuatan syirik.
Berikut bentuk-bentuk syirik yang dirinci oleh Ibnu Dihaq:
- Menyandarkan Diri Pada Bintang-bintag
Dimaksud menyandarkan diri pada bintang-bintang adalah ilmu zodiak dan astrologi. Jadi orang yang syirik percaya terhadap ilmu zodiak dan astrologi bahwa dapat mengubah kehidupan menjadi lebih baik, dan ini adalah syirik dosa besar.
- Menyandarkan Diri pada Benda-benda
Misalkan meyakini bahwa api bisa membakar secara mandiri, makanan bisa mengenyangkan secara mandiri, pisau bisa melukai secara mandiri dan seterusnya yang berkaitan dengan sunnatullah (hukum alam).
Maka bila diyakini bahwa api dapat membakar sesuatu dengan sendirinya tanpa sedikit pun kuasa dan kehendak Allah dalam proses itu maka dianggap kafir. Maka yang tepat adalah meyakini segala perbuatan benda beserta efeknya seluruh terjadi atas kehendak kekuasaan Allah.
- Menyandarkan Diri kepada Manusia
Dimaksud di sini segala perbuatan yang kita lakukan adalah semata-mata karena keberhasilan diri sendiri tanpa melibatkan kekuasaan dan kehendak Allah SWT. Padahal bila Allah SWT tidak berkehendak, maka tidak mungkin terjadi meskipun telah berupaya sangat sekalipun. (*)


