KITAINDONESIASATU.COM-Orang Kanekes Baduy memiliki beragam keterampilan tidak hanya dalam berladang, dan menjaga norma sosial leluhur saja. Akan tetapi, juga mahir dalam membuat kerajinan tangan berbasis kearifan lokal, salah satunya tas Kepek.
Tas Kepek buatan tangan Orang Kanekes Baduy dibuat dari kulit pohon saray. Pohon Saray sendiri banyak tumbuh di wilayah Baduy Dalam. Tas Kepek memiliki fungsi sebagai tas hantaran mas kawin dalam pernikahan adat Urang Kanekes.
Berbeda dengan tas Koja yang lebih umum dikenal oleh masyarakat luas, tas Kepek masih jarang ditemukan keberadaannya di Baduy. Hal ini disebabkan proses produksi tas Kepek terbatas, tidak seperti tas Koja.
Penyebabnya, karena faktor bahan dasar pembuatan tas Kepek yang langka serta membutuhkan waktu pengerjaan yang lebih lama dibandingkan tas Koja. Hal lainnya dikarenakan fungsi tas Kepek lebih eksklusif dibandingkan tas Koja.
Apabila tas koja dapat digunakan dalam berbagai kegiatan orang Kanekes, maka tas kepek fungsinya hanya sebagai tas hantaran mas kawin dalam pernikahan adat urang Kanekes Baduy.
Meskipun memiliki fungsi ritus dalam adat pernikahan orang Kanekes Baduy, namun tas Kepek dapat digunakan pula untuk kegiatan lainnya, seperti bepergian, atau menjajakan hasil bumi, sebagai tempat membawa perbekalan dan pakaian, atau benda lainnya yang dianggap berharga seperti uang atau perhiasan.
Sedangkan untuk kepentingan lainnya, tas Kepek yang digunakan biasanya berukuran lebih kecil daripada tas Kepek hantaran mas kawin.
Berdasarkan tampilannya, tas Kepek berbentuk persegi panjang yang terbuat dari anyaman bambu yang dilapisi oleh kulit pohon saray. Keberadaan tas Kepek dapat ditemukan di beberapa kampung di wilayah Kenekes Dalam, salah satunya adalah Kampung Cibeo.
Proses Pembuatan
Untuk membuat sebuah tas kepek setidaknya diperlukan waktu 2-3 hari. Selain karena prosesnya yang rumit, juga karena langkanya bahan baku serta pemrosesan bahan baku yang cukup memakan waktu.
Batang pohon saray yang telah diambil dari pohonnya kemudian dijemur hingga kering. Sedangkan untuk bagian dalamnya bambu disamak tipis-tipis hingga dapat dibentuk anyaman.
Pengerjaan dimulai dari menganyam bagian dalam tas kepek yang berasal dari bambu. Anyaman di buat menjadi dua buah, yang ditujukan untuk bagian bawah dan atas sebagai tutup. Ukuran anyaman bambu disesuaikan menurut jenis ukuran yang diinginkan dan kegunaannya baik itu untuk tas harian ataupun untuk tas hantaran pernikahan.
Anyaman bambu yang telah selesai dibentuk menjadi bagian dalam tas dilapisi dengan kulit pohon saray yang telah kering dijemur. Untuk mengikat atau menguatkan lapisan antar bagian (dalam dan luar) digunakan sulaman-sulaman yang terbuat dari irisan kulit bambu yang telah dibentuk hingga menyerupai tali.
Adapun untuk memisahkan bagian bawah dan tutup tas dibatasi dengan bambu yang telah diiris tipis hingga dapat dibentuk dan dikuatkan dengan tali bambu pada setiap bagiannya.
Pilinan tali yang dibuat dari bahan dasar pohon teureup, disematkan pada bagian pinggir tas, supaya tas bisa diselempangkan. Adapun ukuran panjang tali disesuaikan biasanya 60-100 cm tergantung besar kecilnya tas kepek yang dibuat. Sedangkan untuk jenis tas kepek berukuran besar yang dipakai untuk hantaran pernikahan, jinjingan tas dibuat dari bambu. Tali bambu digunakan supaya lebih kuat dan kokoh menopang beban dari tas kepek yang cukup berat membawa barang-barang hantaran.
Warga sedulur Banten, mari kita jaga, mencintai dan lestarikan kearifan lokal Banten sebagai bagian dari merawat warisan budaya bangsa.



