KITAINDONESIASATU.COM – Film I Not Stupid Too 2 yang disutradarai oleh Jack Neo merupakan sebuah film dari Singapura yang rilis pada tanggal 26 Januari 2006 dengan durasi 124 menit. Film ini menceritakan sebuah kisah kakak beradik yaitu Tom Yeo yang berusia 15 tahun dan Jerry yang berusia 8 tahun. Di rumahnya mereka tinggal bersama ayah, ibu, nenek, dan seorang asisten rumah tangga bernama Yati.
Orang tua Tom dan Jerry sama-sama bekerja dan jarang bahkan hampir tidak pernah meluangkan waktu untuk sekedar memperhatikan anak-anaknya. Tom, anak pertamanya merupakan seorang Blogger yang berbakat, namun sayang keahlian yang dimilikinya tidak pernah didukung atau bahkan sekedar diapresiasi, orang tuanya menganggap bahwa nilai akademiklah yang paling penting dalam hidup anak-anaknya.
Orang tua mereka menganggap bahwa mengomel adalah bentuk komunikasi mereka dengan anak-anaknya padahal anak hanya mendengarkan lalu perkataan tersebut akan menguap begitu saja, bahkan jika amarah orang tuanya sudah terlalu banyak atau “kelebihan muatan” maka sama saja dengan membiarkan anak-anak itu mati. Dari sini sudah terlihat bagaimana pola asuh orang tua dari Tom dan Jerry serta Chengcai yang merupakan sahabat Tom di sekolah.
Orang tua yang divisualisasikan dalam film I Not Stupid Too 2 ini merupakan orang tua yang tidak pandai mengkomunikasikan rasa sayang mereka terhadap anak-anaknya. Pola asuh orang tua yang seperti ini disebut juga dengan pola asuh otoriter, yaitu orang tua memaksa kehendaknya kepada anak, mengontrol anak secara ketat, adanya hukuman fisik jika anak melakukan kesalahan atau berbuat yang tidak sesuai dengan kehendak mereka, apapun yang dikatakan orang tua adalah hal yang mutlak dan adanya dominasi orang tua di dalam rumah.
Hal ini tergambar jelas sekali dalam beberapa scene, seperti ayahnya Chengcai yang melarang ia mempelajari kungfu karena ayahnya menjadi cacat akibat dari bela diri tersebut, ibu Tom yang membandingkan nilai akademiknya dulu dengan Tom, menganggap bahwa apapun yang bukan akademik itu tidak penting, menuntut anak untuk tidak melakukan hal-hal buruk yang justru mereka lakukan didepan anak-anak itu sendiri.
Dalam perkembangan emosi anak, keluarga berperan sangat krusial. Pada masa anak-anaklah orang tua harus membina dan mendampingi pembentukan emosional anak. Banyak faktor keluarga yang ikut berperan dalam proses perkembangan emosional anak, salah satunya adalah pola asuh orang tua, dimana disitulah emosional anak dibentuk, yang juga merupakan salah satu faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi kesuksesan anak di masa yang akan datang. Setiap orang tua berhak untuk menentukan pola asuh yang seperti apa yang akan mereka terapkan kepada anak-anaknya, namun ada juga beberapa faktor yang mempengaruhi pola asuh seperti pendidikan orang tua dan faktor lingkungan.
Keluarga dengan peran yang begitu penting sangat mempengaruhi emosi anak, misalnya anak yang ditolak ketika dia mengekspresikan emosinya maka ia akan tumbuh menjadi anak yang mudah marah, susah bergaul, dan sebagainya. Selain itu, lingkungan sekolah juga memiliki peran yang tidak kalah penting, apabila lingkungan sekolah tidak mendukung perkembangan emosional anak, maka ini akan menyebabkan anak mempunyai hubungan yang tidak harmonis dengan gurunya atau bahkan dengan teman-temannya.
Pada durasi ke 40:13, ada scene dimana Tom melihat bahwa ayahnya sedang mengerjakan projek yang cukup besar dan laptopnya rusak sebelum file-file penting itu dicadangkan. Saat hendak pergi sekolah, Tom melihat ayahnya meninggalkan laptop tersebut di atas meja, dengan inisiatif dia mencoba memperbaiki laptop dengan kemampuan yang dia punya dan segera menyusul ayahnya ke tempat dimana ia bekerja.
Baca juga: Kampung Naga: Peran Perempuan dalam Tradisi ‘Hajat Sasih’


