News

SM Kriten Gloria 2 Surabaya Menggelar Deklarasi Anti Perundungan

×

SM Kriten Gloria 2 Surabaya Menggelar Deklarasi Anti Perundungan

Sebarkan artikel ini
sma gloria
Para siswa saat melakukan deklarasi di halaman sekolah SMA Gloria 2 Kota Surabaya. foto: tangkapan layar

KITAINDONESIASATU.COM – Kasus perundungan terhadap salah satu siswa SMA Kriten Gloria 2 Surabaya oleh orangtua disuruh sujud dan menggonggong oleh wali murid lain yang sakit hatin membuat sekolah ini mengambil sikap.

Bertepatan dengan momentum peringatan Hari Pahlawan, SMA Kristen Gloria 2 Surabaya menggelar Deklarasi Anti Perundungan pada hari Senin, 11 November 2024.

Acara ini dipimpin oleh Kepala SMA Kristen Gloria 2 Surabaya, Drh Deborah Indriati, MM.

Deklarasi ini bertujuan menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari perundungan, penuh rasa aman, nyaman, serta didasari oleh nilai saling menghargai.

Deklarasi Anti Perundungan di SMA Kristen Gloria 2 Surabaya, sebagai langkah nyata untuk lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi para siswa.

BERITA PERUNDUNGAN LAINNYA: Pengusaha Surabaya Perintahkan Remaja Pelajar Bersujud dan Menggonggong

Dalam deklarasi tersebut, seluruh Keluarga Besar SMA Kristen Gloria 2 menyatakan komitmennya untuk:

  1. Menolak dengan tegas segala bentuk perundungan.
  2. Memberikan tindakan tegas terhadap segala bentuk perundungan.
  3. Membangun lingkungan sekolah yang saling menghargai dan mengasihi.

Deklarasi ini diikuti oleh seluruh siswa dari kelas X, XI, dan XII.

Sebagai bentuk dukungan nyata, para perwakilan kelas juga turut diminta menandatangani dokumen deklarasi sebagai simbol komitmen mereka.

Hal ini mencerminkan upaya bersama antara siswa, guru, dan seluruh pihak sekolah untuk memberantas praktik perundungan serta membangun iklim positif di lingkungan sekolah.

“Dengan adanya Deklarasi Anti Perundungan ini, SMA Kristen Gloria 2 Surabaya berkomitmen untuk terus bersinergi dalam memberantas segala bentuk perundungan dan menciptakan lingkungan belajar yang aman dan penuh kasih,” kata Deborah.

Langkah ini menurut Deborah diharapkan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk turut berkomitmen melawan perundungan demi terciptanya generasi muda yang lebih baik dan berempati. **

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *