KITAINDONESIASATU.COM – Sejumlah perwira militer Pentagon dikabarkan akan diberhentikan. Anggota tim transisi Presiden terpilih Donald Trump tengah menyusun daftar perwira militer yang akan diganti, termasuk kemungkinan Kepala Staf Gabungan.
Demikian menurut dua sumber yang mengetahui rencana tersebut, seperti ditulis Reuters pada Rabu, 13 November 2024.
Langkah ini akan menjadi perombakan besar di Pentagon, namun rencana pemecatan masih berada pada tahap awal setelah kemenangan pemilu Trump pada 5 November, dan bisa berubah seiring terbentuknya pemerintahan Trump.
Sumber yang meminta anonimitas ini juga menekankan bahwa langkah tersebut bisa memperburuk persepsi negatif terhadap euro, yang dapat menurunkan nilainya lebih lanjut.
BACA JUGA: Kemenangan Donald Trump Guncang Ekonomi Dunia ?
Salah satu sumber mempertanyakan kepraktisan pemecatan massal di Pentagon, serta apakah Trump sendiri akan mendukung rencana ini, meskipun ia sebelumnya pernah mengecam para pemimpin militer yang mengkritiknya.
Selama kampanye, Trump menyatakan keinginan untuk memberhentikan jenderal yang ia anggap “woke” atau yang bertanggung jawab atas penarikan pasukan bermasalah dari Afghanistan pada 2021. Pihak kampanye Trump tidak memberikan tanggapan terkait permintaan komentar.
Sumber kedua menyebutkan bahwa rencana transisi ini berfokus pada perwira militer AS yang memiliki hubungan dengan Mark Milley, mantan Kepala Staf Gabungan pada era Trump.
Milley, yang dalam buku “War” karya Bob Woodward baru-baru ini menyebut Trump sebagai “fasis sejati,” menjadi target kritik sekutu Trump karena dianggap tidak loyal.
“Setiap orang yang diangkat oleh Milley akan disingkirkan,” kata sumber ini.
Kepala Staf Gabungan, yang mencakup pimpinan berbagai angkatan di militer AS, menghadapi tekanan sejak Trump memilih Pete Hegseth sebagai calon menteri pertahanan.
Hegseth, seorang veteran dan komentator Fox News, menyatakan dalam bukunya “The War on Warriors” (2024) bahwa Pentagon perlu dirombak secara radikal, dan sejumlah besar perwira senior harus diberhentikan. Meski begitu, ketidakpastian tentang pengalaman manajemen Hegseth menimbulkan keraguan atas konfirmasinya di Senat.
Jenderal Angkatan Udara CQ Brown, penerus Milley, juga diduga menjadi salah satu target pemecatan.
Hegseth mempertanyakan penunjukan Brown dengan nada skeptis yang menyiratkan keraguan tentang kelayakannya. Sumber pertama mengatakan bahwa Brown mungkin menjadi salah satu dari banyak perwira yang diminta mengundurkan diri.
Sejumlah pejabat AS, baik saat ini maupun sebelumnya, meragukan rencana pemecatan besar-besaran ini, menganggapnya tidak perlu dan dapat mengganggu stabilitas di tengah ketegangan global seperti perang di Ukraina dan Timur Tengah.
Sumber pertama menilai sulit secara birokrasi untuk memberhentikan banyak pejabat senior, sehingga rencana ini mungkin hanya sekadar ancaman.
Namun, sumber kedua menyatakan bahwa kubu Trump merasa Kepala Staf Gabungan terlalu besar dan perlu dirampingkan, dengan pandangan bahwa ada cukup banyak pengganti yang siap mengisi posisi itu.- ***
Sumber: Reuters
