Berita Utama

Miliano Jonathans, Belanda Depok yang Kembali ke Indonesia

×

Miliano Jonathans, Belanda Depok yang Kembali ke Indonesia

Sebarkan artikel ini
B392913E 0A0D 4A65 9CBF 637E7FF7D85A

KITAINDONESIASATU.COM – Satu lagi pemain tim nasional Indonesia bakal kedatangan seorang pemuda Belanda-Depok yang bermain di Vitesse Arnham, klub di Eredivisie Belanda, yakni Miliano Jonathans.

Namanya Miliano Jonathans, dan berasal dari garis keturunan presiden Belanda Depok pertama dan terakhir.

Bila naturalisasi pemain sepakbola kelahiran 5 April 2004 tak ada kendala, bakal dipastikan menjadi salah satu andalan timnas di tanah air.

Miliano Jonathans ini memiliki garis keturunan Indonesia, berasal dari trah presiden Belanda Depok pertama dan terakhir.

Jonathans adalah satu dari 12 klan Belanda-Depok. Sebelas lainnya adalah; Laurens, Tholense, Soedira, Joseph, Jacob, Leander, Bacas, Loen, Isakh, Samuel, dan Zadoch.

Khusus yang terakhir, yaitu Zadoch, musnah akibat tak punya anak laki-laki pewaris marga.

Klan Jonathans, dimulai dengan MF Gerit Jonathans, yang kali pertama memimpin masyarakat Belanda-Depok. Presiden terakhir Belanda-Depok juga dari klan Jonathans, yaitu Johannes Matheis Jonathans.


Presiden terakhir Belanda-Depok ini memiliki anak, yang sampai usia 90-an, menjadi saksi terakhir jatuh-bangun komunitasnya, yaitu Cornelis Yoseph Jonathans atau Opa Yuti.

Belanda-Depok adalah sebutan warga lokal untuk pribumi yang di-Belanda-kan oleh Cornelis Chastelein — pemilik tanah partikelir yang membentahg sekian luas mulai dari Bojong Gede di Bogor sampai Mampang.


Orang Belanda-Depok sama sekali bukan Belanda. Nggak ada darah Belanda sebab mereka bukan hasil perkawinan pribumi dan kulit putih Belanda.

Nenek moyang mereka adalah 150 budak asal Bali, Borneo (Kalimantan), Makassar, Maluku, Ternate, Kei, Pulau Rote, dan Batavia.

Mereka di-Kristen-kan, dididik dengan budaya Belanda; mulai dari pakaian dan segalanya. Sesuai tradisi Belanda, mereka dikelompokan ke dalam 12 marga seperti tertera di atas.


Sebelum Cornelis Chastelein meninggal pada 28 Juni 1714, sebuah masyarakat pribumi dengan budaya Belanda muncul dan sedemikian mapan.

Namun, mereka masih tetap bekerja sebagai penggarap lahan tanah partikelir Cornelis Chastelein.

Empat bulan sebelum meninggal, Chastelein menulis surat wasit. Isi surat wasiat itu; Maka hoetan jang laen jang disabelah timoer soengei Karoekoet sampai pada soengei besar, anakkoe Anthony Chasteleyn tijada boleh ganggoe sebab hoetan itoe misti tinggal akan goenanya boedak-boedak itoe mardaheka, dan djoega mareka itoe dan toeroen-temoeroennja ….

Sebagai pemilik tanah partikelir, Chastlein memiliki dua hak istimewa, yaitu hak dipertuan — makanya disebut tuan tanah — dan hak memerintah.

Hak dipertuan memungkinkan pemilik tanah menarik pajak. Hak memerintah membuat pemilik mengganti kepala kampung dan membuat aturan.

Idealnya, setelah Chastelein meninggal, 150 budak == yang terbagi ke dalam 12 marga — berhak menjadi tuan di atas tanah Depok dan mendirikan pemerintahan sendiri.

Nyatanya tidak, VOC menangguhkan pengalihan tanah partikelir Depok kepada para budak sampai lebih saratus tahun.

Tahun 1880-an Belanda-Depok memperjuangkan haknya menjadi tuan di atas tanah Depok. Tahun 1886 disusun Reglement van Het Land Depok.

Pada 1871, advocaat Batavia MH Klein menulis konsep reglement pembentukan organisasi dan pemerintahan desa serta pengaturan untuk Depok, yang bercorak republik.

Saat itulah Gemeente Bestuur Depok terbentuk.
Jauh sebelum orang Indonesia mengenal pemilihan presiden, orang Belanda-Depok telah melakukannya tahun 1871.

Gerit Jonathans terpilih sebagai Gelijkgestelden, atau presiden, pertama Depok. MF Jonathans duduk sebagak sekretaris.

Jangan bayangkan ada kabinet. Sebab, pemerintah Depok hanya mengenal presiden, sekretaris, bendahara, dan dua orang gecomiteerden.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *