KITAINDONESIASATU.COM – Aksi kerusuhan dan penjarahan terjadi di Prancis di tengah terjadinya gelombang protes besar terkait biaya hidup mahal hingga terjadi bentrokan dan berujung kerusuhan sejak Sabtu (17/10/2025).
Polisi Perancis menangkap ribuan pengunjuk rasa, seiring meluasnya bentrokan yang terjadi antara massa pengunjuk rasa dan aparat kepolisian.
Aksi demo berujung kerusuhan hingga meluas menjadi penjarahan beredar dan viral di sosial media menjadi perhatian warna netizen di seluruh dunia.
Merujuk pemberitaan kantor berita AFP, Minggu (18/10/2026), Perdana Menteri Perancis Sebastien Lecornu mengatakan, setidaknya 150 polisi terluka dan 1.200 orang ditangkap.
Kepada wartawan, Menteri Dalam Negeri Perancis Laurent Nunez mengatakan, mereka yang ditangkap, antara lain, karena terlibat vandalisme dan penjarahan yang menurutnya dipicu oleh kelompok kiri garis keras.
Terlihat dalam tayangan di sosial media seorang pria bertubuh besar berusaha mengamankan tokonya yang dibobol para penjarah, bahkan pria itu terlibat aksi perkelaian dengan sejumlah pemuda yang hendak menjarah.
Namun sejumlah orang lainnya berusaha menghalang-halangi aksi kekerasan yang ditujukan kepada seorang pria yang menjaga tokonya yang pintunya rusak dan berlubang karena dibobol penjarah.
Sejumlah kebakaran juga terjadi dialami bar La Barrique terbakar, bahkan mobil dan sepeda motor turut terbakar hingga menghiasi sejumlah titik kerusuhan di Kota Paris.
Kerusuhan tidak hanya terjadi di Kota Paris, sejumlah kota lainnya seperti di Marseille pengunjuk rasa melakukan perusakan toko mulai toko barang mewah hingga toko roti menjadi sasaran aksi kerusuhan.
Dilaporkan kantor berita AFP aksi serupa juga terjadi di Lille dan Nice masa mengamuk di sejumlah pusan penjualan ponsel hingga toko olahraga dan dealir sepeda motor menjadi sasaran aksi mereka.
Seperti kita ketahui gelombang protes di Prancis diawali aksi pelajar menuntut perbaikan fasilitas sekolah yang dinilai memprihatinkan, gerakan ini kemudian meluas menjadi aksi lebih besar melibatkan semua kelompok.
Aksi protes kemudian merembet ke masalah sosial soal mahalnya biaya hidup, tingginya bahan bakar dan juga fasilitas pelayanan publik dianggap kurang memuaskan, kekerasan penanganan demontrasi anak-anak menjadi salah satu pemicu kemarahan massa yang lebih besar di Prancis. **






