KITAINDONESIASATU.COM – Syekh Ibn Ata’illah as-Sikandari dalam karya monumentalnya, Kitab al-Hikam, menekankan pentingnya kesadaran spiritual manusia melalui ajaran ke-61.
Hikmah ini mengingatkan bahwa jalan utama menuju pengenalan Allah (marifatullah) sering kali berawal dari kesadaran penuh atas ketidakberdayaan dan kerendahan diri sendiri di hadapan sang Pencipta.
Manusia kerap terjebak pada rasa bangga akibat amal ibadah atau pencapaian material yang diraih. Padahal, seluruh kekuatan dan kesempatan yang dimiliki murni merupakan karunia Ilahi. Ketika seseorang mengakui kelemahannya, ia tidak lagi mengandalkan diri sendiri, melainkan menyandarkan seluruh urusannya hanya kepada pertolongan dan rahmat Allah.
Ajaran ini menjadi pengingat bagi setiap hamba agar selalu menjaga kerendahan hati (tawaduk). Menyadari keterbatasan diri menghindarkan hati dari sifat sombong dan ujub yang dapat merusak kualitas ibadah. Kebersihan jiwa dari kesombongan inilah yang menjadi pintu masuk menuju ketenangan batin.
Pada akhirnya, hikmah ke-61 Al-Hikam mengajarkan bahwa kerendahan di hadapan Allah adalah puncak kemuliaan seorang hamba. Dengan menyadari statusnya sebagai mahluk yang lemah, seorang hamba akan lebih tulus dalam berserah diri dan menjalani kehidupan.(*)




