KITAINDONESIASATU.COM — Dalam perjalanan spiritual seorang hamba, tertundanya doa sering kali memicu keraguan. Menjawab kecemasan tersebut, Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari dalam hikmah ke-58 Kitab Al-Hikam memberikan penjelasannya mengenai hakikat ijabah dan pemberian Allah SWT.
Beliau menegaskan bahwa penundaan karunia ketika seorang hamba terus berdoa tidak boleh menjadi alasan untuk berkecil hati. Allah berjanji mengabulkan setiap doa, namun Dia pula yang menentukan cara dan waktu terbaik—bukan sesuai kehendak atau keinginan hawa nafsu manusia.
Pesan spiritual ini memuat beberapa poin utama bagi kehidupan hamba:
- Sifat Ijabah: Allah mengabulkan doa sesuai pilihan-Nya yang paling membawa kebaikan, bukan selalu mengikuti permintaan hamba.
- Misteri Waktu: Waktu ijabah ditetapkan berdasarkan hikmah Ilahi, yang acap kali baru disadari keindahannya di kemudian hari.
- Ujian Keikhlasan: Menjaga husnudzon (prasangka baik) saat doa belum terwujud merupakan bentuk ibadah hati yang sangat tinggi nilainya.
Hikmah ini mengingatkan bahwa ketaatan sejati ditunjukkan melalui penyerahan diri secara penuh. Apa yang dianggap manusia sebagai penundaan, pada hakikatnya adalah perlindungan dan kasih sayang-Nya yang sedang bekerja.(*)



