KITAINDONESIASATU.COM — Dalam kitab monumental Al-Hikam, Syekh Ibn Atha’illah as-Sakandari menegaskan pentingnya menyelaraskan wujud lahiriah amal dengan kesucian batin.
Pada hikmah ke-35, beliau mengajarkan bahwa amal perbuatan adalah bentuk fisik yang kaku, sedangkan ruh atau jiwanya terletak pada rahasia keikhlasan yang ada di dalamnya.
Ibnu Atha’illah mengibaratkan setiap ibadah yang dikerjakan manusia layaknya sebuah jasad. Tanpa adanya niat yang bersih dan ketulusan hanya demi Allah, jasad amal tersebut tidak memiliki daya hidup di hadapan Sang Pencipta.
Keikhlasan menjadi penentu utama apakah suatu karya ibadah dapat diterima atau sekadar menjadi rutinitas tanpa makna spiritual.
Para ulama menafsiri hikmah ini sebagai teguran mendalam bagi umat agar tidak terjebak pada formalitas ritual semata.
Keluhuran suatu amalan tidak diukur dari seberapa megah atau banyaknya bentuk lahiriah yang ditunjukkan, melainkan dari kedalaman niat hati yang terbebas dari riya dan dahaga pujian makhluk. Keikhlasan itulah yang menebarkan cahaya kebaikan dan menghidupkan setiap amal hingga berbuah pahala hakiki di akhirat.(*)




