KITAINDONESIASATU.COM – SIM card yang selama ini dianggap hanya sebagai kartu untuk menghubungkan ponsel ke jaringan seluler ternyata menyimpan potensi ancaman keamanan serius.
Riset terbaru University of Birmingham mengungkap, SIM card yang telah dimodifikasi atau diretas berpotensi digunakan untuk mengambil alih berbagai perangkat, mulai dari smartphone, perangkat Internet of Things (IoT), hingga sistem pengisi daya kendaraan listrik (EV).
Temuan tersebut dipresentasikan dalam Konferensi USENIX WOOT 2026 di Baltimore. Para peneliti menyoroti fitur standar bernama Proactive SIM, yang memungkinkan kartu SIM mengirimkan perintah tertentu langsung ke modem perangkat.
Salah satu kemampuan yang menjadi sorotan adalah eksekusi perintah AT (Attention command), teknologi pengendali modem yang telah digunakan sejak era 1980-an.
Celakanya, fitur tersebut dapat dimanfaatkan SIM berbahaya untuk menjalankan serangkaian tindakan tanpa disadari pemilik perangkat.
Dalam pengujian terhadap 26 perangkat yang terdiri dari 18 smartphone dan delapan modul IoT seluler, peneliti menemukan sejumlah skenario serangan yang cukup mengkhawatirkan.
SIM berbahaya diketahui dapat memaksa perangkat berpindah dari jaringan 4G yang lebih aman ke jaringan 2G yang rentan, mengakses data sensitif, mengirim pesan, melakukan panggilan, hingga memutus komunikasi seluler.
Bahkan, pada sejumlah perangkat Android terbaru, kartu SIM yang telah dimanipulasi mampu memaksa ponsel membuka situs web berbahaya tanpa interaksi pengguna, meski layar perangkat dalam kondisi terkunci.
Asisten Profesor Ilmu Komputer University of Birmingham, Marius Muench, mengatakan ancaman tersebut berasal dari standar teknis komunikasi seluler yang masih digunakan hingga saat ini.
Menurutnya, ancaman SIM berbahaya sebenarnya telah beberapa kali disoroti oleh peneliti keamanan siber maupun dokumen intelijen, tetapi risikonya belum sepenuhnya ditangani.
Para peneliti mengidentifikasi sedikitnya empat skenario yang dapat membuka jalan bagi serangan, yakni peretasan jarak jauh terhadap perangkat lunak SIM, penggantian SIM secara fisik, penyalahgunaan fitur manajemen jarak jauh oleh operator yang telah dikompromikan, serta manipulasi rantai pasokan saat SIM atau eSIM diproduksi dan didistribusikan.
Ancaman tersebut tidak berhenti pada smartphone. Perangkat industri, kendaraan terkoneksi, hingga berbagai sistem IoT yang mengandalkan koneksi seluler juga berpotensi menjadi sasaran. (*)





