KITAINDONESIASATU.COM- Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor serius menyiapkan pembangunan dua fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). PSEL Galuga di Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2028, sedangkan PSEL Kayumanis di Kecamatan Tanah Sareal ditargetkan beroperasi pada 2029.
Khusus PSEL Kayumanis, Pemkot Bogor memberikan perhatian terhadap kesiapan lahan dan akses menuju lokasi yang berada di wilayah Kota Bogor. Berbeda dengan PSEL Galuga yang telah memiliki tumpukan sampah untuk diolah, Pemkot Bogor terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar mengenai teknologi PSEL yang diklaim modern sehingga tidak menimbulkan polusi udara, suara, maupun air.
Saat ini, lahan PSEL Kayumanis yang berada di Kelurahan Kayumanis masih dalam kondisi kosong. Pemkot Bogor tengah menyiapkan pembangunan akses jalan menuju lokasi tersebut.
Pada Selasa 21 Juli 2026, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim bersama jajarannya meninjau persiapan pembangunan PSEL Kayumanis.
Sejumlah alat berat terlihat mengerjakan akses jalan menuju lokasi PSEL Kayumanis. Petugas juga melakukan pembangunan bronjong di sekitar aliran Sungai Angke.
Dedie Rachim mengatakan, pembangunan PSEL Kayumanis merupakan hasil dari proses panjang dan melibatkan banyak pihak.
“Dikawal Menko Pangan, Menteri LH, Mendagri, kemudian juga PLN, ESDM, Danantara, termasuk Gubernur Jawa Barat dan kita Pemkot Bogor,” kata Dedie.
Pembangunan PSEL Kayumanis merupakan gelombang kedua setelah proyek serupa di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga.
“Jadi groundbreakingnya setelah PSEL Galuga. PSEL Galuga itu rencana awal Agustus dan untuk PSEL Bogor Raya ini bulan November,” jelas Dedie.
Baca juga: https://kitaindonesiasatu.com/news/tps-3r-mekarwangi-kota-bogor/
Pemenang lelang PSEL Kayumanis juga telah diumumkan. Saat ini, Pemkot Bogor fokus mempersiapkan akses jalan menuju lokasi pembangunan.
“Akses jalannya dari mulai ujung Tol Bogor Outer Ring Road (BORR), sampai kesini panjangnya 1,65 KM. Tadi kita jalan kaki, masih ada beberapa titik yang harus kita selesaikan,” ujar Dedie.
Dari sisi pola ruang dan pemanfaatan, keberadaan PSEL tersebut telah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang dituangkan ke dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Lokasi tersebut masuk dalam zona Wilayah Pelayanan (WP) C untuk program Waste to Energy.
Berdasarkan hasil peninjauan, masih terdapat sejumlah titik yang membutuhkan penguatan. Dedie meminta agar akses menuju lokasi PSEL dapat dibuat lebih mulus.
“Jangan belok-belok, kalaupun harus ada pembebasan lahan sedikit-sedikit mungkin bisa dibantu oleh Pak Sekda agar bisa segera selesai,” ucapnya.
Proses penyiapan akses jalan saat ini menggunakan anggaran rutin. Ke depan, akses tersebut direncanakan dilakukan betonisasi.
“Makanya kita akan adakan dua pendekatan, pertama dari anggaran rutin seperti pemadatan dan lain-lain, satu lagi kita juga akan lakukan proses untuk penunjukan langsung (PL),” kata Dedie.
Seluruh proses persiapan akses jalan ditargetkan rampung pada November 2026. Dedie berharap masyarakat Kota Bogor dapat mendukung pembangunan PSEL Kayumanis.
Menurutnya, keberadaan PSEL memiliki sejumlah manfaat, salah satunya membantu Kota Bogor secara bertahap mengatasi persoalan sampah. PSEL Kayumanis diproyeksikan membutuhkan sekitar 1.000 ton sampah per hari untuk diolah.
“Di sini 1.000 ton di Galuga 1.500 ton. Bayangkan bagaimana kemudian kita sebagai warga bisa memanfaatkan sampah yang masih punya nilai,” terang Dedie.
Dedie juga membuka peluang bagi wilayah lain untuk mendistribusikan sampah ke PSEL Kayumanis, termasuk dari Kota Depok dan Kabupaten Bogor.
“Nanti kita atur juga truknya supaya lebih bersih. Paradigma pengolahan sampahnya bukan yang lama, kita buat sekarang jadi listrik tidak ada polusi tapi malah menghasilkan barang yang bernilai ekonomi,” ujar Dedie.
Di lokasi PSEL Kayumanis juga direncanakan dibangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) skala kota, termasuk fasilitas pengolahan sampah sisa pembakaran insinerator.
“Kita jadikan sebagai FABA (Fly ash dan bottom ash) Plant namanya. Sisanya bisa dijadikan kanstin, paving block bisa dijadikan macam-macam produk yang bisa memiliki manfaat atau nilai ekonomi,” jelasnya.
Pembangunan PSEL tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan sampah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak (BBM) impor.
Kebutuhan BBM nasional saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Sementara itu, produksi dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 700 ribu barel per hari. Kekurangannya masih harus dipenuhi melalui impor.
Pemerintah pusat saat ini menargetkan pembangunan 32 unit PSEL di berbagai daerah. Setiap fasilitas diproyeksikan mampu mengolah sekitar 1.000 hingga 1.500 ton sampah per hari dengan potensi menghasilkan listrik sekitar 34 megawatt (MW).
Teknologi PSEL yang menerapkan sistem pembakaran modern dinilai mampu menekan emisi lebih rendah dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil. Pengembangan energi baru terbarukan juga dinilai menjadi kebutuhan untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Di Kota Bogor, persoalan sampah masih menjadi tantangan besar. Volume sampah harian terus meningkat, sementara armada pengangkut baru mampu membawa sekitar 700 hingga 800 ton sampah ke TPA setiap hari.
Sementara itu, sekitar 300 ton sampah lainnya berpotensi dibakar secara liar, dibuang ke sungai, atau menumpuk di lahan kosong. Karena itu, sistem PSEL perlu diintegrasikan dengan TPS 3R serta didukung budaya pemilahan sampah dari sumbernya.
Kota Tokyo, Jepang, telah menggunakan teknologi PSEL dengan 22 unit fasilitas. Keberhasilan pengelolaan tersebut turut didukung kedisiplinan masyarakat dalam menerapkan konsep reduce, reuse, recycle (3R).
Sampah lama yang telah menumpuk di TPA hingga mencapai jutaan ton direncanakan dapat ditangani melalui teknologi pirolisis, controlled landfill, dan gasifikasi.
Sementara itu, sampah baru yang masuk setiap hari diarahkan untuk diolah melalui PSEL.
Selain menghasilkan listrik, residu dari proses pengolahan juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku road base, paving block, batako, hingga campuran semen.
Perumda Tirta Pakuan Siapkan Skema Pasokan Air
Di tempat terpisah, Direktur Utama Perumda Tirta Pakuan, Rino Indira Gusniawan, memastikan pihaknya telah menyiapkan sejumlah skenario untuk memenuhi kebutuhan air operasional PSEL tanpa mengganggu pelayanan kepada masyarakat.
Ia menjelaskan, setiap satu ton sampah yang diolah membutuhkan sekitar satu meter kubik air. Dengan kapasitas PSEL antara 1.000 hingga 1.500 ton per hari, kebutuhan air diperkirakan mencapai 1.000 sampai 1.500 meter kubik setiap hari.
Rino mengatakan, terdapat tiga opsi yang disiapkan. Pertama, memanfaatkan jaringan distribusi yang sudah ada dengan pengaturan kuota khusus. Kedua, menerapkan sistem sirkulasi air industri yang digunakan secara berulang. Ketiga, membangun intake serta instalasi pengolahan air (WTP) mandiri dari sumber sungai di sekitar lokasi proyek.
“Kami harus memastikan kebutuhan air industri ini tidak mengganggu pasokan air bersih masyarakat. Kepastian suplai sangat penting karena jika boiler berhenti, biaya pemanasan ulang sangat besar,” jelasnya.
Menurut Rino, kehadiran PSEL juga berpotensi meningkatkan pendapatan Perumda Tirta Pakuan. Saat ini, pelanggan industri hanya sekitar tiga persen dari total pelanggan, tetapi memberikan kontribusi sekitar 25 persen terhadap pendapatan perusahaan.
“Tambahan pelanggan industri seperti PSEL akan memperkuat pendapatan perusahaan. Keuntungannya bisa digunakan untuk subsidi silang sehingga tarif pelanggan rumah tangga tetap terjaga,” katanya.






