Berita UtamaBisnis

Harga Kedelai Impor Naik, Dosen IPB Ungkap Alasan Pengrajin Tahu Tempe Kian Terjepit

×

Harga Kedelai Impor Naik, Dosen IPB Ungkap Alasan Pengrajin Tahu Tempe Kian Terjepit

Sebarkan artikel ini
Pelemahan Rupiah dan Ketergantungan Impor Membuat Pengrajin Tahu Tempe Semakin Tertekan
Dosen IPB University mengungkap penyebab kenaikan harga kedelai impor membuat pengrajin tahu dan tempe semakin tertekan serta solusi mengurangi ketergantungan impor.

KITAINDONESIASATU.COM- Dampak kenaikan harga kedelai impor yang terjadi belakangan ini mencerminkan bagaimana gejolak ekonomi global dapat langsung dirasakan oleh rumah tangga hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia.

Dosen Sekolah Bisnis IPB University, Dr Tanti Novianti, menjelaskan bahwa tingginya ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor membuat industri tahu dan tempe sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah dan dinamika pasar global.

“Tempe dan tahu merupakan sumber protein rakyat yang bahan bakunya hingga saat ini masih didominasi impor, sekitar 90–95 persen. Ketika dolar AS menguat atau rupiah melemah, harga kedelai impor otomatis menjadi lebih mahal dalam rupiah meskipun harga kedelai dunia relatif tetap,” ujarnya, Rabu 1 Juli 2026.

Ketergantungan Impor Membuat Industri Tahu dan Tempe Rentan

Dr Tanti menerangkan, kondisi tersebut berdampak langsung pada biaya produksi para pengrajin tahu dan tempe. Di sisi lain, kemampuan pelaku usaha untuk menaikkan harga jual sangat terbatas karena konsumen produk tersebut berasal dari berbagai lapisan masyarakat yang sensitif terhadap perubahan harga.

Para pengrajin pun dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah, mulai dari menaikkan harga dengan risiko kehilangan pelanggan, mempertahankan harga dengan mengurangi ukuran produk atau menekan keuntungan, hingga mengurangi produksi yang berpotensi memengaruhi pendapatan pekerja dan keberlangsungan usaha.

“Pelemahan rupiah membuat biaya produksi naik lebih cepat dibanding kemampuan UMKM menyesuaikan harga jual. Inilah yang membuat banyak pengrajin merasa terimpit,” katanya.

Produksi Kedelai Nasional Masih Jauh dari Kebutuhan

Dr Tanti menilai tingginya ketergantungan terhadap impor menjadi persoalan utama. Produksi kedelai nasional saat ini masih jauh dari kebutuhan dalam negeri yang mencapai sekitar 2,5–2,7 juta ton per tahun.

Selain itu, produktivitas kedelai lokal juga masih relatif rendah dibandingkan negara-negara produsen utama dunia sehingga pasokan domestik belum mampu memenuhi kebutuhan industri tahu dan tempe.

Peluang Memperkuat Produksi Kedelai Lokal Masih Terbuka

Meski demikian, menurut Dr Tanti, peluang memperkuat produksi kedelai nasional masih sangat terbuka. Indonesia memiliki potensi lahan yang luas, pasar domestik yang besar, serta peluang pengembangan varietas unggul yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Petani Perlu Insentif yang Jelas

Ia menekankan bahwa petani memerlukan dukungan yang lebih konkret agar tertarik menanam kedelai.

“Petani perlu diberikan insentif ekonomi yang jelas. Tidak cukup hanya mendorong mereka menanam kedelai, tetapi juga harus ada kepastian harga, pasar, benih, teknologi, dan pendampingan,” jelasnya.


Solusi Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Pemerintah Perlu Menjaga Stabilitas Harga

Dalam jangka pendek, Dr Tanti mendorong pemerintah memperkuat stabilisasi harga kedelai, meningkatkan pengawasan distribusi, serta memperluas akses pembiayaan murah bagi UMKM melalui skema seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Modernisasi Industri dan Penguatan Produksi Lokal

Sementara itu, dalam jangka panjang, peningkatan produksi kedelai lokal, penguatan koperasi pengrajin, pengembangan riset varietas unggul, hingga modernisasi industri tahu dan tempe dinilai menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Ketahanan Pangan Tidak Hanya Beras

Menurut Dr Tanti, upaya menjaga ketahanan pangan nasional juga harus mencakup keberlanjutan produksi pangan sumber protein masyarakat.

“Ketahanan pangan bukan hanya soal beras, tetapi juga protein rakyat seperti tempe dan tahu. Karena itu, kebijakan yang melindungi pengrajin sekaligus memperkuat produksi kedelai lokal perlu terus didorong agar usaha tetap berkelanjutan dan pangan tetap terjangkau bagi masyarakat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *