KITAINDONESIASATU.COM – Persaingan di industri kecerdasan buatan semakin memanas setelah muncul laporan bahwa Google membatasi penggunaan model AI Gemini oleh Meta.
Kebijakan tersebut disebut berdampak pada sejumlah proyek internal Meta yang membutuhkan kapasitas komputasi dalam jumlah besar untuk mengembangkan layanan berbasis kecerdasan buatan.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa Meta sebelumnya mengajukan permintaan kapasitas komputasi yang jauh lebih besar kepada Google.
Namun, perusahaan induk Google, Alphabet, dikabarkan tidak mampu memenuhi seluruh permintaan tersebut karena keterbatasan sumber daya komputasi yang tersedia.
Google: Permintaan Komputasi AI Terus Meningkat
Akibat pembatasan tersebut, beberapa proyek AI Meta dilaporkan mengalami penundaan.
Kebutuhan Meta terhadap model Gemini disebut jauh lebih tinggi dibandingkan pelanggan Google Cloud lainnya, sehingga dampaknya terasa lebih signifikan bagi perusahaan media sosial tersebut.
Sebagai langkah penyesuaian, Meta dikabarkan mulai mendorong para karyawannya untuk menggunakan token AI secara lebih efisien.
Token merupakan satuan yang digunakan untuk mengukur pemakaian model kecerdasan buatan, sehingga penghematan token diharapkan dapat mengoptimalkan kapasitas yang tersedia.
Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa industri AI masih menghadapi tantangan besar dalam penyediaan infrastruktur.
Meskipun perusahaan teknologi global terus menginvestasikan dana miliaran dolar untuk membangun pusat data dan membeli chip AI, permintaan terhadap daya komputasi masih melampaui kapasitas yang tersedia.

