Berita UtamaKesehatan

Pakar IPB Ungkap Bahaya Pipa Paralon pada Cetakan Kue Putu, Berpotensi Picu Risiko Kesehatan

×

Pakar IPB Ungkap Bahaya Pipa Paralon pada Cetakan Kue Putu, Berpotensi Picu Risiko Kesehatan

Sebarkan artikel ini
Pakar IPB Ungkap Bahaya Pipa Paralon pada Cetakan Kue Putu
Pakar IPB University mengingatkan penggunaan pipa PVC atau paralon untuk mencetak dan mengukus kue putu berpotensi memicu migrasi zat berbahaya ke dalam makanan.

KITAINDONESIASATU.COM- Suara khas gerobak kue putu selalu berhasil membangkitkan selera sekaligus nostalgia. Namun, di balik popularitas jajanan tradisional tersebut, muncul fenomena penggunaan pipa polyvinyl chloride (PVC) atau paralon sebagai alat cetak dan pengukus yang kini mendapat sorotan dari kalangan akademisi.

Pakar Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, Prof Eko Hari Purnomo, mengingatkan bahwa penggunaan pipa PVC dalam proses pembuatan kue putu sebaiknya tidak dilakukan karena berpotensi memicu perpindahan komponen plastik berbahaya ke dalam makanan. Menurutnya, pipa paralon pada dasarnya dirancang untuk mengalirkan bahan dalam kondisi dingin dan tidak diperuntukkan bagi penggunaan pada suhu tinggi.

“Pipa paralon pada dasarnya dikembangkan untuk mengalirkan bahan dalam kondisi dingin, terutama jenis unplasticized PVC yang hanya bisa digunakan pada suhu di bawah 50 derajat celcius, sehingga tidak didesain untuk digunakan pada suhu tinggi,” ungkapnya, dalam keterangan tertulis, Senin 22 Juni 2026.

Prof Eko menjelaskan, proses pengukusan kue putu membutuhkan uap air bersuhu sekitar 100 derajat celcius untuk menghasilkan gelatinisasi pati beras yang terjadi pada suhu sekitar 80 derajat celcius. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan migrasi atau perpindahan komponen plastik dari pipa PVC ke dalam kue putu yang dikonsumsi masyarakat.

“Suhu ini dapat mengakibatkan migrasi/perpindahan komponen plastik dari pipa paralon ke dalam kue putu. Pipa paralon umumnya dibuat dari plastik PVC terutama jenis unplasticized PVC yang hanya bisa digunakan pada suhu di bawah 50 derajat celcius,” ucapnya ketika diminta tanggapannya oleh tim IPB Today.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa suhu tinggi dapat memicu migrasi zat tambahan seperti stabiliser yang mengandung Pb (timbal) yang berpotensi menimbulkan gangguan pada ginjal. Selain itu, terdapat kemungkinan migrasi monomer pembentuk PVC yang bersifat karsinogenik atau dapat memicu kanker.

Sebagai alternatif, Prof Eko menyarankan penggunaan alat cetak dan pengukus tradisional berbahan bambu yang dinilai lebih aman dan ramah lingkungan. Selain menjaga keamanan pangan, penggunaan bambu juga dinilai mampu mempertahankan nilai budaya dalam kuliner tradisional Indonesia.

“Kalaupun menggunakan cetakan plastik, harus dipilih jenis yang aman untuk pangan pada suhu tinggi,” tambahnya.

Ia juga menegaskan bahwa keamanan pangan merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan pemerintah, produsen, dan konsumen. Menurutnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), pemerintah daerah, serta perguruan tinggi perlu berperan aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat terkait penggunaan bahan yang aman dalam proses pengolahan makanan.

“Masalah keamanan pangan adalah menjadi tanggung jawab dari pemerintah, produsen, dan konsumen. Terkait keamanan pangan, maka otoritas keamanan pangan (BPOM), pemerintah daerah, dan perguruan tinggi dapat mengambil peran aktif untuk mengedukasi masyarakat,” tutupnya.

Fenomena penggunaan pipa paralon pada pembuatan kue putu menjadi pengingat pentingnya memperhatikan aspek keamanan pangan dalam industri kuliner tradisional. Penggunaan bahan yang sesuai standar dan aman bagi pangan dinilai menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan konsumen tanpa menghilangkan nilai tradisi yang melekat pada jajanan khas Indonesia tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *